Wednesday, February 12, 2014

✿ Hallo (cinta) ✿


Hallo (cinta),
Sudah berapa lama kita tidak saling bersua?

Satu bulan..
  Dua bulan..
      Tiga bulan..
            Empat bulan..

Atau bahkan satu dekade..

Ada banyak kisah saat kamu tak ada. Tentu saja, bukan melulu tentang cinta kita yang semakin menua. Kita sama-sama belajar mendewasa. Seperti kamu tau, kita bukan lagi remaja merah merona dengan senyum malu-malu, tangan berkeringat, dan degupan jantung serupa desing peluru saat harus kembali bertemu. Banyak memori kita acuhkan begitu saja, mungkin karena terkadang kita perlu jeda dalam perjalanan ini.

Seringkali, kita menghabiskan waktu jumpa dengan sekedar bercerita. Bukan. Bukan saling bercerita seperti seharusnya, karena kamu hanya sibuk mendengarkan saja. Aku berceloteh tentang banyak hal; impian-impian kita, kekesalan-kekesalan yang tertunda, bahkan buku yang baru saja habis kubaca. Dan kamu tak pernah bosan mendengarkan semua cerita, juga semua doa di sela-selanya.

Terkadang aku memaksamu bercerita. Bercerita tentang apa saja. Semua cerita itu tak pernah benar-benar penting buatku, karena kehadiranmu adalah yang paling penting, dan mencintaimu tetaplah menjadi bagian terfavoritku dari semua cerita. Karena bahagia selalu sederhana. Bahagia menuliskan tiap lembar yang tersisa pada buku harianku dengan seluruh cerita-ceritamu, lalu menyelipkan beberapa bagian penting di dalamnya; sepertiga dengan namamu, sepertiga dengan namaku, dan sepertiga lagi dengan doa tentang kita. Tanpa perlu dipisahkan dari masing-masing bagiannya.
Betapa aku merindukan suara kita yang tertawa, yang bahkan aku hampir lupa bagaimana bunyi tawa itu. Dengan dua bola mata yang berbinar-binar bahagia, dan senyum dengan deretan gigi manis yang kamu banggakan setiap kita jumpa nanti, kamu selalu berhasil membuatku bahagia.

"Bukankah luka ini masih terlalu pagi, untuk membuat kita berhenti." tiap kali kita menjelma arakan gelombang emosi yang menderu. Karena tentu saja, mencintai adalah perihal menghadapi kesedihan-kesedihan dan tiap tetes air mata bersama-sama.
Lalu suatu hari kita berjalan bersama. Cukup langkahkan kaki perlahan saja. Tak perlu dengan langkah lebar dan tergesa, karena jemari kita masih harus saling menggenggam. Kita nikmati saja, karena kita masih harus sampai pada ujung perjalanan ini.

Maka jika cinta kita benar-benar tua suatu saat, selalu ada doa yang aku ucapkan diam-diam, “Tuhan, jadikan cintaku cinta yang baik untuk sepasang telinga yang kerap kali mendengarkan cerita ini. Dan jadikan aku mampu mencintainya dengan baik. Cinta yang selalu mengerti, bahwa dibalik punggung yang bergegas pergi, ada aku yang sedang menunggu,”

Tenang saja. Akan ada seseorang yang tidak akan kemana-mana sekalipun kamu dan dia terjebak dalam diam yang lama, sekaligus tetap tinggal mendengarkan dengan saksama, ketika kamu terlalu egois dan sibuk sendirian bercerita.

✿ Teruntukmu nanti, pangeran impian yang slalu menemani hari-hari lelahku...disini, ku menunggu hadirmu ✿

Monday, February 10, 2014

Barangkali ♥ (✿◠ ‿ ◠)


Barangkali aku jatuh cinta,
Pada rinai-rinai januari bersahaja,
Barangkali juga jatuh cinta,
Pada tetes-tetesnya yang memberi damai jiwa,
Barangkali aku jatuh cinta,
Pada energi langit yang seseorang dapat dari sujud di tiap malam sepertiganya,
Barangkali teramatnya aku jatuh cinta,
Pada akhirat yang ia tuju
Dan sepenuh hati mengamuflasekan dunia,
Barangkali Aku jatuh cinta,
Pada yang tak pernah menghentak, semarah apapun ia pada siapa,
Barangkali aku jatuh cinta,
Pada yang berjuang sekuat-kuat ia untuk diperhitungkan Rabb-nya menjadi yang IA cinta,
Barangkali aku ingin selamanya jatuh cinta,
Pada jalan pelangi ini, yang menghantarkan tenangnya jiwa, agungnya cinta, semunya duka,
Barangkali aku jatuh cinta,
Pada persephone,-warna disaat menutup mata..


*untaian kata berserakan di januari bersahaja* ♥ (✿◠ ‿ ◠)

Tuesday, January 7, 2014

✿ Cinta se-aneh itu ♥ (✿◠ ‿ ◠)





Kadang kita tidak bisa menemukan apa sebab pasti dari rasa cinta yang ALLAH semayamkan di hati.
Ia yang, ~ bisa pada sesuatu yang ‘belum jelas adanya’, bisa pada sosok yang belum pernah dikenal indera kita, bisa pada krucil-krucil yang baru hadir di beberapa tahun di depan, bisa pada sebuah bundel surat cinta berbahasa arab yang padahal tidak penuh kau tahu artinya apa, bisa pada sosok yang berkali-kali membuatmu menangis karena kesal dengan caranya mencintaimu penuh penjagaan (Ibu) , bisa pada sosok yang pernah kau benci sesaat karena emosi, juga bisa, pada sosok yang entah siapa, tapi kau memilih setia...

Cinta se-aneh itu.
Yang kita tahu hanya, saat ia menghuni hati, ada hangat yang nyaman di setiap melangkahi hari. Ada pagar penjaga dari hal-hal yang membuatmu jauh dari yang kau cintai, ada penjara tak kasat mata yang memenjarakan hatimu teruntuknya, ada energi super mega menggerakkan indera-inderamu untuk mampu melakukan apapun untuknya yang kau tidak pernah bisa begitu kepada yang tidak kau cinta..
ia, rasa yang tak mampu diterjemahkan semua kata di dunia..

Ibu bilang, “tidak mungkin seseorang bisa memperjuangkan yang tidak ia cintai”. Iya, bahkan seaneh itu cinta. Ia-nya kita rasai bukan dengan pelukan-pelukan manis semata. Terkadang, atau malah seringkali, ia tentang guratan perjuangan berdarah-darah yang membuat pejuangnya tetap tersenyum dalam luka, bahkan dalam meregang nyawa, atas nama memperjuangkan yang ia cinta.

Teringat Asy Syahid Sayyid Quthb, yang cinta pada akhiratnya tidak pernah membuatnya takut pada tiang gantungan. Tidak membuatnya takut pada cara mati yang tidak terhormat bagi orang se-mulia ia.. tidak membuatnya gentar akan segala nikmat dunia yang dicabut begitu saja dari hidupnya yang sebelum inqilab-nya, ia ditaburi itu semua.. perjuangannya, atas nama cinta tentu saja. Cinta kepada ALLAH yang membuat hangus segala cinta kepada selain-NYA..

Atau Syahidah, yang saat membaca biografinya membuat matamu menjadi kaca-kaca, ia yang mengajarkan Qur’an sejak belia usianya hingga menuju renta. Ia yang atas nama cinta, tidak takut dipenjarakan di penjara yang amat menakutkan semua wanita. Ah lupa, ia bukan wanita biasa tentu saja. Yang atas nama cinta pula, ia diselamatkan ALLAH dari gigitan anjing-anjing lapar yang seharusnya mengoyak habis tubuhnya. Atas nama cinta ALLAH kepada hamba yang Ia cinta.. Zainab Al-Ghozali Asy Syahidah. "Jauh bumi dari langit, Bunda. Tapi semoga kelak kita bisa bertemu. ;Sebagai syahidah yang amat besar cinta pada jalan-NYA, pada Qur’an-NYA, pada Rasul-NYA, dan paling Utama pada IA..

Cinta bisa mengubah kekurangpedulimu perihal tahun-tahun di depan sesudah membaca sebait pesan di buku tentang syahidah luar biasa dengan 13 anak, Ustadzah Yoyoh Yusroh,-Allahu yarham, yang berkata: “rahim seorang wanita harus dipersiapkan untuk melahirkan generasi terbaik. Oleh karena itu, makan lah hanya yang halal dan thayyib.” Lalu tiba-tiba saja kamu kehilangan seluruh nafsu makanmu saat berada di tempat makan yang kiranya tidak thayyib, atau thayyib tapi tidak halal. Lalu bisa saja kamu memuntahkan seluruh yang baru saja kamu makan begitu melihat anak ibu warung penjual makanan itu membawa lauk-nya dari rumah menuju warung dengan kantong plastik hitam yang tidak layak -_-.
Ringan saja menahan tergiurmu pada sekotak Breadtalk di depan mata sembari mengingat-ingat ia belum ada SH-nya. Juga pada traktiran Sushi yang kehalalan restaurant-nya diragukan.
Se-memberi kekuatan itu cinta. Pada yang padahal belum ada wujudnya.

Cinta se-aneh itu...
Se-aneh itu. Ia kadang sesuatu yang membuat bersemu malu-malu, di sisi lain ia yang membuat jadi sangat berani. Ia kadang suatu yang menghangatkan dada, namun bisa pula membuat bermalam-malam menangisinya.

Cinta se-aneh itu...
Ia bisa membuatmu menangis tergugu penuh rindu. Padahal sejak lauhul mahfudz belum kering tintanya, ALLAH menulis takdir bahwa kau takkan pernah bertemu dengannya di dunia. Apalagi memandanginya, menikmati teduh pancaran sinar wajahnya. Jauh lagi mampu mendekapnya. 
Ia hadir seaneh itu. Mungkin cinta itu mulanya dari berbelas tahun lalu seorang abi mengantar tidurmu dengan bercerita tentang sosoknya. Lalu pemantik rindu setelahnya sederhana saja. Hanya tersebab membaca-baca literatur ringan tentangnya. Bukan yang setebal shiroh nabawiyah. Ia ‘hanya’ ensiklopedi pembuka karangan seorang ekonom muallaf yang luar biasa. Juga dua novel yang mengisahi tentangnya dengan amat sastra. Rasulullah Muhammad.. takut sekali bila rindu ini tak pantas terpenuhi. Kelak di surga, entah tempatku dan engkau sejauh apa mata mampu memandang. Hingga dalam pasrah tak lelah berdoa penuh harap, moga setidaknya si pencinta ini layak, beroleh gelas dari cidukanmu di telaga kautsar.. 
saat itu saja bertemu, semoga mampu memenuhi sewindu rindu. Ah, iri sekali dengan anak-anakmu, istri-istrimu, sahabat-sahabatmu.. di dunia-akhirat mereka membersamaimu. Entah apa wajar menangis karna takdir yang memutuskan aku bukan satu dari mereka.. I felt a pang of jealousy..

"alangkah indahnya hidup ini…andai dapat kudekap dirimu… tiada kata yang dapat aku ucapkan..hanya Tuhan saja yang tahu.." dan bait-bait nasyid itu mewakili seluruh ungkapan hati. Diputar dengan tersedu saat buku tentang kekasih ALLAH itu kau baca dengan seluruhnya jiwa."

Cinta, ia bisa se-aneh itu...
Yang membuat orang yang mencintaimu mencintai hal yang sama..
Tentang mengeja hari dan musabab apa yang membuat ibu semampu itu berkuat diri. Senyaman itu ia menjalani hari. Padahal sepenelusuran, tidak sepi jengkal usianya dari uji lagi, dan uji lagi. Sederhana saja rupanya. Sederhana yang dijalani tak semudah membalik telapak tangan, sebab ia berbalas surga. “bersama-NYA, dalam dera apapun menimpa.” Sejak menemukan jawaban, aku tidak tahu doa apalagi yang lebih indah dan mencukupkan segala untuk aku panjatkan selain, “ALLAH, karuniakan kepada kami, rasa cinta yang tumbuh bertumbuh kepadaMU, dari hari ke hari..”

Cinta bisa membuat orang se-yakin itu...Saat ibu bilang “bersabarlah dalam taat. Yang baik teruntuk yang baik, dan tidak pernah ALLAH sayang ia yang bermaksiat..”.yakin itu yang dimulai dari tidak akan pernah tega membuat ibu kecewa bila kelak menemukan puterinya bermaksiat pada ALLAH, meletakkan cintanya pada hal remeh, dan waktu yang belum seharusnya... Seringan itu saja ia melewati cobaan-cobaan yang sulit tentang hal yang bernegasi dari apa yang ibu amanahi.. “yang menjaga untuk yang menjaga. Yang bermain rasa, bagi yang bermain rasa.” Se-percaya itu, dan que sera-sera..

Entah bagaimana bila cinta itu tidak aneh...tidak paradoks, tidak anomali... 
Dengannya mungkin biasa saja hari. Tidak penuh perjuangan, tidak penuh penjagaan, tidak penuh doa yang beriringan, tidak penuh degup, tidak penuh takut, tidak penuh warna-warni-nya rasa, apa indahnya? 

Ia yang di satu sisi lelah kita menjalaninya..namun ia menjadi ruang kita beristirahat. Ia yang membuat kita terus memberi, namun dengannya kita terpenuhi. Ia yang membuat kita berjuang, namun kita rasanya beroleh rasa menjadi yang diperjuangkan. Kita mencintai, menujuNYA, mungkin sedikit saja...
Setapak, lalu setapak lagi. Dan IA balas mendatangi dengan berlari. Cinta itu, kurang apa paradoksnya?

Jauh lagi.. apa jadinya bila mengibadahi IA tanpa cinta? memperjuangkan dakwah ini tanpa cinta? menghafal kalamNYA tanpa cinta? mencintai Ibu-Ayah,adik-adik tanpa cinta kepada-NYA? apa indahnya? apa bisa?

Sungguh-sunguh Yaa ALLAH kami pinta..“jadikan rasa cinta di hati kami kepadaMU, adalah cinta yang tumbuh bertumbuh dari hari ke hari..”

"cinta kepada ALLAH adalah ladang paling subur, ianya penyebab tumbuh cinta kepada sesama, dan kepada apa-apa yang IA cinta"

Dan cinta memang se-aneh itu... ♥ (✿◠ ‿ ◠)

Sunday, December 29, 2013

✿ Sang Pengetuk ✿





Jika sang pengetuk telah datang

Pernahkah pintumu diketuk? Diketuk oleh dia yang tak terduga. Lantas hati gelisah pada putusan untuk membuka atau tidak membuka. Bukankah dia tamu? Yah, tamu harus dijamu dengan baik. Tapi, tuan rumah memiliki hak untuk menyeka kaca yang buram, mengintip siapa sang pengetuk dan bertanya siapa dia. Atau bahkan membiarkan mentari menghangat agar terang siapa sosok dibalik pintu. Dan cinta pun brsemi di taman ketakwaan, kau tau? Karena rasa itu selalu bermain di sekitarnya, maka angin tak pernah memilih menerbangkan benih. Angin berputar, menghembus dan membawa benih yang bersedia menemaninya kemanapun tempat yang dituju.

Pada sebuah nama yang mungkin tak bertulis di Lauh Mahfuzh, kita masih yakin ada peluang yang tercipta di setiap ikhtiar dan doa. Kau tahu, sebab jodoh itu misteri alam semesta maka bisa jadi kau temukannya dari celah rerimbunan dedaunan, tetes embun berkilauan, semilir angin yang lembut, rintik hujan yang bersimfoni, hangat mentari di kala pagi dan pada siluet senja yang melembayung, namun satu yang pasti, biarkan ia menemukanmu dengan cara terindah sesuai dengan syariatNYA, maka itulah misteri yang menggetarkan jiwa..

#Serpihan dialog yang berserakan

Friday, December 27, 2013

✿ Butuh dan Ingin ✿


ALLAH memberi yang kita butuhkan, bukan yang kita ingini..

Dalam jenak-jenak putaran waktu dan dalam gulungan-gulungan cerita yang kita ukir setiap hari, ada kata yang memonopoli hidup kita. Memonopoli untuk menyetujui egoisme kita, mendominasi untuk mengalahkan rasa kita maka dialah “Ingin”. Aku ingin begini, aku ingin begitu. Di tiap bait-bait do’a yang terpanjat, masih terselip kata “Ingin”. Tapi, “butuh” tak selamanya “Ingin” kita. Tahukah kita bahwa dalam rangsangan dan reflex ada ruang yang tercipta, disitulah letak “Ingin” kita dibenarkan, tetapi bahwa rangsangan dan reflex itu letak “Ingin” ALLAH pada kita. 
Bisa jadi “Ingin” kita sejalan dengan “Ingin” ALLAH, namun terkadang justru “Ingin” itu ambivalen. Maka, Ingin ALLAH adalah yang merajai Ingin kita, karena ALLAH paling tau “butuh” kita…

Apakah ini ujian, cobaan, adzab atau…???

Terkadang kaki kita tersandung, tubuh kita terjengkang, wajah kita terjerembab, oleh laku yang tercipta. Ianya datang disikapi bermacam-macam, merutuki takdir, menyalahkan orang lain, atau lari dari masalah. Namun, mestinya kesadaran kita disentak bahwa ini bukan sekedar ujian, cobaan atau adzab tapi ini adalah tarbiyah. Tarbiyah dari ALLAH untuk menggiring kita pada sebuah kesadaran paripurna tentang hakikat kita sebagai hamba atas laku, kata dan fikir kita yang tak sejalan dengan aturanNYA. Maka, tiada mesti kita merutuki setiap sandungan itu yang justru baik dan membaikkan diri kita.

Antara logika dan nurani…

Adalah keniscayaan saat kita hidup dalam dua sisi logika dan nurani. Meski kadang suara nurani samar oleh bisingnya logika berargumentasi. Kita tak boleh alpa bahwa suara nurani yang bening itu menuntun kita menemukan jalan dari labirin-labirin argumentasi logika. Nurani berbicara perlahan dan lembut, ia tiada pernah menghakimi tindak tanduk kita. Namun logika senantiasa memberikan petunjuk matematis. Ada kalanya mereka berjibaku, saling berlomba memberi fatwa pada putusan kita, namun suara nurani adalah suara dahsyat yang mesti didahulukan. Mungkinkah mereka sejalan? Sangat! Sangat mungkin mereka bersinergi melangkah, memberi arah yang semakin terang benderang. Maka, hanya nurani yang bersih dan logika yang sehat yang mampu membuat putusan yang seiring dan sejalan.

Pantaskah??

Sudut ketidakpantasan tak melulu harus kita jadikan alasan yang tak berperi dari segala penolakan yang kita alami. Nyatanya, kita tak pernah kehabisan peluang untuk menjadi lebih baik. Ini bukan sekedar kita telah menerima penolakan, tapi sejauh mana penolakan itu telah mentransformasi diri kita pada satu titik “memantaskan diri” menjadi lebih baik. Mungkin penolakan adalah titik balik membenahi segala yang berhamburan dan tercecer kemana-mana. Ah, selalu saja kita butuh memanage sudut pandang. Seperti bulan yang memiliki sisi gelap dan terang. Sisi terang itulah yang nampak indah dari bumi, tapi ada sisi gelap yang tidak pernah kita tahu sama sekali. Bahkan, bisa jadi sisi tak nampak itu akan indah jika diterangi oleh cahaya.


✿ Perjalanan itu terasa amat panjang, jiwa-jiwa yang melaluinya mulai merasa keletihan. Jeda sejenak untuk melepas letih dan menyeka peluh yang kian menganak sungai ✿

✿ Jika Na Jadi Ibu ♥ (✿◠ ‿ ◠)


Jika suatu saat nanti kau jadi ibu,
Ketahuilah bahwa telah lama umat menantikan ibu yang mampu melahirkan pahlawan seperti Khalid bin Walid.
Agar kaulah yang mampu menjawab pertanyaan Anis Matta dalam Mencari Pahlawan Indonesia:
“Ataukah tak lagi ada wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan?
Seperti wanita-wanita Arab yang tak lagi mampu melahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid?”

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu,
jadilah seperti Asma’ binti Abu Bakar yang menjadi inspirasi dan mengobarkan motivasi anaknya untuk terus berjuang melawan kezaliman.
“Isy kariman aw mut syahiidan! (Hiduplah mulia, atau mati syahid!),” kata Asma’ kepada Abdullah bin Zubair.
Maka Ibnu Zubair pun terus bertahan dari gempuran Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi, ia kokoh mempertahankan keimanan dan kemuliaan tanpa mau tunduk kepada kezaliman. Hingga akhirnya Ibnu Zubair syahid. Namanya abadi dalam sejarah syuhada’ dan kata-kata Asma’ abadi hingga kini..

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, 
jadilah seperti Nuwair binti Malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi anaknya. Saat itu sang anak masih remaja. Usianya baru 13 tahun. Ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar..
Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam tidak mengabulkan keinginan remaja itu. Ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih.
Namun sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam dengan potensinya yang lain..
Tak lama kemudian ia diterima Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur’an. Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu.
Karena ibu, namanya akrab di telinga kita hingga kini : Zaid bin Tsabit..

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu,
jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah.
Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu. Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadits dan imam Madzhab.
Ia tidak lain adalah Imam Ahmad..

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, 
jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya. Seperti Ummu Habibah.
Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya.
Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya: “Yaa ALLAH Tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMU.
Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-MU. Oleh karena itu aku bermohon kepada-MU Yaa ALLAH, permudahlah urusannya. Peliharalah keselamatannya,panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, amin!”.
Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya,
tapi kita pasti mengenal nama besarnya: Imam Syafi’i..

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu,
jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti ibunya Abdurrahman.
Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu. “Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, kamu adalah Imam Masjidil Haram…”, katanya memotivasi sang anak.
“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, kamu adalah imam masjidil haram…”, sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan..Hingga akhirnya Abdurrahman benar-benar menjadi imam masjidil Haram dan ulama dunia yang disegani. Kita pasti sering mendengar murattalnya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama Abdurrahman As-Sudais..

Jika suatu saat nanti kau jadi ibu, 
jadilah orang yang pertama kali yakin bahwa anakmu pasti sukses.
Dan kau menanamkan keyakinan yang sama pada anakmu. Seperti ibunya Zewail yang sejak anaknya kecil telah menuliskan “Kamar DR. Zewail” di pintu kamar anak itu. 
Ia menanamkan kesadaran sekaligus kepercayaan diri.
Diikuti keterampilan mendidik dan membesarkan buah hati, jadilah Ahmad Zewail seorang doktor. Bukan hanya doktor, bahkan doktor terkemuka di dunia. Dialah doktor Muslim penerima Nobel bidang Kimia tahun 1999.

Source: WA Super Mother



✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿✿


Nangiiiis baca ini..
Jika suatu saat nanti kau jadi ibu.. 
mendengarnya semacam Na artikan;
“Jika suatu saat nanti telapak kaki ALLAH perkenankan jadi syurga..”
Sambil teringat ada berapa banyak anak-anak masa depan yang tak direncanakan jadi hebat-apalagi teruntuk ummat. 
Sang ibu yang kini masih sibuk mengisi harinya dengan menegasikan persiapan dalam memiliki mereka...
Hari-harinya senang-senang semu, menumpuk dosa..menjauhi syurga. Jangankan persiapan jadi ibu, memilih yang membersamai hingga ke syurga saja, mungkin Na tak tahu bagaimana caranya. 
Atau tak mau Na memilih yang pergi kesana..?? (#eh bukan kok *Big Grin* :D)

Ah anak-anak masa depan, 
kepada siapa kelak tangan mungil kalian bergelayut meminta dididik jadi Khalid bin Walid, Imam Ahmad, Imam Malik, Abdurrahman As Sudais, atau Ahmad Zewail?
Tidak juga selalu mempersiapkannya Na yang si yang menulis ini...Terkadang lalai dengan terfokus pada permasalahan hidupnya semata..
Lalai ia bahwa meniti hari bukan tentang dirinya sendiri..
Dengan sangat percaya bahwa setiap serpih gula yang semut temukan saja adalah bagian dari rencana-NYA, 

Berbenah De...!!!
Being mom is a big deal...!!!
Preparation is a must..!!!

♥ (✿◠ ‿ ◠)





✿ Dalam Cengkraman Waktu ✿


ada pada setiap cengkraman waktu,
cekatan nafas,
menyipitnya mata,
kerut-kerut kening,
dan katupan bibir yang tergigit deretan gigi atas..
ya, semangat itu,
apa yang tertumbuhkan dalam hati..
yang bisa kau cipta sendiri.
dalam situasi apapun,
pun dalam saat ini...

saat siapa menyalahkan siapa sudah tidak penting lagi..
se-tidak penting siapa-ingin-menjelaskan-kepada-siapa..
siapa-ingin-protes-kepada-siapa..
cukup sabar saja, waktu akan berlalu, 
dan mungkin pressure seperti ini suatu saat nanti akan Na rindui..

yang harus Na yakin. “jual-beli ini dengan ALLAH”..
wa kafaa billahi syahiida..
karna surga masih jauh… 
maka kumpulkan bekal meski se-kerikil-kerikil untuk menjadi tangga menujunya.
& menjadilah batu bata yg kuat. ..

inna ma’al usri yusroo.. 
laa yukallifullahu nafsan illaa wus’ahaa.

"kalo gerak kamu bukan karna manusia, 
benturan-benturan dengan manusia tidak akan menghentikan gerakmu.” 
maka hari-hari yang berlalu ini semacam pembuktian. : karena siapa?!
dan Na sangat butuh untuk buktikan karna siapa.
sebab takkan bercampur; haq wal bathil. ilallah, aw ila maa ghoyruhu..?
kausa pembuktian itu manis! ya, pun jalan ini. Tapi Na tidak akan mengenal manis sebelum cecapi apa itu asam-asin-pahit bukan?

*Dalam cengkraman waktupun, Na menunggu.. menunggu takdir terindah-NYA*