#CeritakuUntukmu#
Tentang Cinta: Muhammad dan Pengemis Tua
Sudah
lama aku tak bercerita kepadamu. Seperti juga engkau yang sudah lama
tak lagi bernyanyi untukku atau sekedar mencandaiku. Entah karena apa.
Entah kenapa. Tiba-tiba hening begitu saja. Hingga tiba-tiba malam ini,
malam di mana aku ingin bercerita kepadamu. Tentang cinta.
Sadarkah
engkau, bahwa manusia semakin sempit memaknai cinta. Manusia mengira
bahwa cinta adalah sekedar hubungan dua jenis manusia berbeda yang
terbakar asmara. Lalu, senang gembira. Atau kecewa, yang anehnya enggan
diterima.
Engkau sabarlah sebentar, untuk mendengar ceritaku.
Di
sudut pasar kota Madinah, ada laki-laki pengemis tua yang buta. Ia
seorang Yahudi. Bajunya kotor dan kumal, dari mulutnya terus-menerus
terlontar sumpah-serapah. Tak bosan-bosannya setiap hari ia mengumpat
dan menghina nama Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam. Meski ia tak pernah melihat seperti apa
sosok yang selalu dihinanya itu.
"Hati-hati kalian
terhadap Muhammad! Dia itu penipu, pendusta, tukang sihir. Jangan pernah
kalian dengarkan ucapannya. Jika tidak, kalian akan tersesat!!"
Setiap
hari, ada seseorang yang selalu memberinya makanan. Bahkan tidak hanya
memberikannya, ia pun menyuapinya. Dialah Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam. Jika makanan itu
terlalu sulit untuk dicerna oleh pengemis itu, maka Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam akan
terlebih dahulu menghaluskannya. Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam tidak pernah berkata-kata
kepadanya. Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam hanya datang membawa makanan lalu menyuapinya.
"Aku
ingatkan kepadamu hai laki-laki berhati lembut.. Waspadalah pada
Muhammad. Jangan pernah engkau tertipu dengan ucapannya yang pernuh
dusta itu!" Umpatnya pada Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam yang sedang menyuapinya.
Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam tersenyum dan mengusap-usap pundak pengemis tua itu.
Demikianlah yang terjadi setiap hari.
Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam tak pernah
berhenti menyuapinya, sebagaimana pengemis tua itu yang tak lelah
memakinya. Hingga suatu ketika, ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala memanggil kembali Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam menghadap-NYA. Bumi berselimut duka. Kabar ini dengan cepat tersebar ke
seantero kota dan berbagai pelosok negeri. Tak terkecuali kepada telinga
pengemis tua itu.
Betapa girang gembiranya ia mendengar kabar kematian Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam.
"Muhammad sudah mati! Muhammad sudah mati!" teriaknya kepada orang-orang di pasar. Tangannya ia angkat-angkat, mata butanya nyalang ke segala arah bergerak-gerak.
Namun,
seiring berita kematian Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam, tak ada lagi yang datang setiap hari
untuk memberinya makan. Tak ada lagi yang dengan tulus lembut
menghaluskan makanan dan menyuapinya. Tiada lagi orang yang setia
mendengar umpatan dan hinaannya tentang Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam, sembari mengusap-usap
pundaknya. Tiada lagi..
Di suatu ketika, Abu Bakar Ash
Shiddiq Radhiallahu 'Anhu, sahabat Muhammad Rasulullah, datang berkunjung ke rumah
putrinya, yang juga istri Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam , Aisyah Radhiallahu 'Anha.
"Putriku, adakah kebiasaan suamimu yang belum aku perbuat?" Tanya Abu Bakar Radhiallahu 'Anhu pada putrinya.
Aisyah Radhiallahu 'Anha. menjawab,
"Ayah,
sungguh engkau adalah sahabat suamiku yang paling dekat dengannya.
Engkaulah yang paling baik mengikuti sunnahnya. Namun, masih ada satu
kebiasaannya yang belum ayah lakukan.."
"Apakah itu?"
"Muhammad
Rasulullah setiap hari selalu pergi ke sudut kota Madinah. Ia datang ke
sana untuk memberi makanan seorang pengemis Yahudi tua yang buta."
Mendengar
cerita putrinya, Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu 'Anhu. bergegas untuk melakukannya. Di
pagi hari, Abu Bakar Radhiallahu 'Anhu pergi ke sudut pasar Madinah. Ia pun menemukan
seorang pengemis tua buta yang diceritakan putrinya. Abu Bakar Radhiallahu 'Anhu mendekatinya. Pengemis tua itu bisa merasakan kedatangan seseorang
kepadanya.
"Siapa engkau?!" Tanya pengemis tua itu dengan nada kasar.
"Aku orang yang biasa setiap hari datang untuk memberimu makan." Jawab Abu Bakar Radhiallahu 'Anhu sembari meletakkan makanan di dekatnya.
Sejenak terdiam.. Lalu pengemis tua itu berkata,
"Bukan! Engkau bukan orang itu. Orang itu selalu datang memberi makanan kepadaku dengan menyuapi aku."
Mendengar
ucapan pengemis tua itu, terharulah Abu Bakar Radhiallahu 'Anhu. Seketika ia teringat
kepada sosok Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam yang teduh, santun dan selalu penuh kasih terhadap
sesama. Mata Abu Bakar berkaca-kaca.
Dengan tangan sedikit gemetar menahan haru, Abu Bakar Radhiallahu 'Anhu mengambil sesuap makanan dan mulai menyuapi pengemis tua itu.
"Akulah orang yang engkau maksud." Ucap Abu Bakar.
Namun, lagi-lagi pengemis tua itu menghardiknya,
"Bukan!
Engkau berbohong! Engkau bukan orang itu. Jika benar engkau orang itu,
tentu aku tidak akan kesulitan mengunyah makanan ini. Orang itu selalu
melembutkan makanan sebelum disuapkan kepadaku sehingga aku mudah
memakannya. Siapa engkau sebenarnya??!" Pengemis tua itu geram.
Abu
Bakar Radhiallahu 'Anhu tak kuasa lagi membendung air matanya. Pipinya basah. Betapa Abu
Bakar Radhiallahu 'Anhu merindukan Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam . Rekaman sosok manusia mulia itu berputar
kembali di benaknya.
"Siapa engkau sebenarnya??!" Tanya pengemis tua itu semakin geram.
Dengan suara bergetar, Abu Bakar Radhiallahu 'Anhu menjawab,
"Engkau
benar, aku bukanlah orang yang engkau maksud. Aku adalah Abu Bakar,
salah seorang sahabatnya. Orang yang engkau maksud telah tiada. Dia
telah wafat. Dia adalah Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam ."
Deg! Bagaikan
dihantam gada, betapa terkejutnya pengemis tua itu. Orang yang setiap
hari tak pernah lupa untuk membawakannya makanan dan menyuapinya adalah
Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam yang selalu ia maki. Dialah Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam , sosok yang selama ini
teramat ia benci. Dialah Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam , sosok yang setiap hari setia
mendengarkan umpatan dan caciannya sembari menyuapinya dengan lembut dan
mengusap-usap pundaknya.
Bagaikan ditimpa reruntuhan
langit, pengemis tua itu duduk terpuruk di atas tanah. Tak berdaya.
Sungguh ia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Betulkah yang engkau ucapkan itu?" Nada suaranya merendah.
"Benar. Ada apakah gerangan?!" Abu Bakar Radhiallahu 'Anhu bertanya heran.
"Kalau
begitu, sungguh ia adalah manusia mulia. Selama ini, dia tidak pernah
marah sedikitpun dan tetap menyuapi aku dengan penuh kasih meski setiap
hari pula aku mengumpat dan menghinanya, di depan matanya sendiri. Aku
sungguh menyesal. Bagaimana caranya jika aku ingin menjadi pengikutnya?" Pengemis tua itu berlinang air mata.
Abu Bakar Radhiallahu 'Anhu akhirnya menjadi saksi pengemis tua itu mengucapkan kalimat syahadat.
Demikianlah,
Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam . Sosok yang selalu menghadapi permusuhan dan kebencian dengan
kasih sayang. Sehingga marah murka yang mengarah kepadanya, berganti
menjadi iman dan cinta.
Ini ceritaku untukmu. Sungguh,
aku tak bermaksud mengguruimu. Aku hanya ingin mengajakmu menelusuri
labirin sejarah agama kita. Menelusuri lorong-lorong masa silam tentang
manusia mulia yang bahkan hingga akhir hayatnya, tak berhenti
memikirkan umatnya. Ia yang tak pernah berhenti mengkhawatirkan engkau,
aku, mereka. Ia yang tak pernah surut mencintai kita.
Aku
hanya ingin mengajakmu merasakan cintanya. Ia memang telah tiada.
Namun, ia tak pernah meninggalkan kita. Sadarkah engkau, tentang
pengorbanannya yang tiada terperi demi mengantarkan kita kepada nikmat
teragung: nikmat iman. Bisakah engkau merasakan cintanya?