Tuesday, October 11, 2016

✿ PLAGIAT ✿


Huwaaaaa

Bloggieeee


Lama tak membersamaimu, ternyata membuat Na kesal..
Kenapa sihh Bloggieee kamu biarkan mereka mencuri ceracauanku dengan hujan, gerimis, bintang dan senja...??

bukan,

bukan perkara "curiannya"
tapi perkara dia yang tak menyelipkan nama Na disetiap ceracauan Na yang dia "maling"

bertahun-tahun Na tak menjenguk ruang ini,
tapi bukan Na tak peduli
tapi semata karena kesibukan hari-hari yang menyita perhatian Na
sampai Bloggiee terabaikan

maafkeun huhuhuhu

Na hanya berharap,
setidaknya dia yang sudah mencuri setiap ceracauannya
mengakui kesalahannya dan meminta maaf
bahkan menghapusnya mengganti dengan hasil karyanya sendiri

tapi,

dia malah blokir Na #nangis kejerrrr

Na ga ridho kalo dia masih membiarkan ceracauan Na dia posting di Blog, IG dan twitternya

menulis itu seni, dan apa indahnya seni jika itu adalah hasil karya orang lain yang kita copy plekk tanpa mencantumkan sumbernya..

kebanggan apa yang didapat..?

entahlah bloggieee Na sendiri tak paham dengan jalan pikiran orang-orang semacam itu :(


Friday, September 19, 2014

✿ Ruang Tunggu ✿


"Tinggal masalahnya, mau diapakan ruang tunggu itu. Ada yang mengisinya dengan usaha, ada yang menjalaninya dengan tindakan yang sia-sia, ber-iri ria dengan pencapaian orang lain, atau bertanya tidak jelas entah kepada siapa, kapan saat untuk dirinya tiba. Ada yang menghiasinya dengan keluh-kesah dan menyalahkan, ada juga yang mengharumkannya dengan aroma kesabaran yang menyebar layaknya udara, yang terpusat di ruang tunggu, lalu perlahan menyeruak ke ruang lain di dalam hati. Tapi apapun itu, pada dasarnya, kita semua sedang melakukan hal yang sama; menunggu ketetapan-Nya tiba."

Adalah tunggu, ruang yang selama ini tertata rapi di hatiku, menanti kehadiran sosokmu yang entah akan seperti apa. Sosok yang nantinya akan menggenapiku. Aku tak tahu apakah kamu memang benar-benar orang baru yang belum aku kenal sebelumnya. Atau jangan-jangan, kita sudah pernah bertemu tapi belum sama-sama tahu. Ah sudahlah, kita lihat saja nanti.

Awalnya aku kira, menunggu adalah pekerjaan yang membosankan. Seiring berjalannya waktu, aku baru mengerti bahwa menunggu adalah salah satu kebijaksanaan yang diajarkan ALLAH. Iya, ALLAH selalu lebih tahu waktu yang paling tepat, bukan? Kita hanya harus menunggu sampai waktu yang tepat itu datang. Maka siapapun yang percaya bahwa ALLAH lebih tahu mana waktu yang paling tepat, harus selalu menyediakan ruang tunggu di hatinya.

Tinggal masalahnya, mau diapakan ruang tunggu itu. Ada yang mengisinya dengan usaha, ada yang menjalaninya dengan tindakan yang sia-sia, ber-iri ria dengan pencapaian orang lain, atau bertanya tidak jelas entah kepada siapa kapan saat untuk dirinya tiba. Ada yang menghiasinya dengan keluh-kesah dan menyalahkan, ada juga yang mengharumkannya dengan aroma kesabaran yang menyebar layaknya udara, yang terpusat di ruang tunggu, lalu perlahan menyeruak ke ruang lain di dalam hati. Tapi apapun itu, pada dasarnya, kita semua sedang melakukan hal yang sama; menunggu ketetapan-NYA tiba.

Terkait seberapa sebentar atau lamanya kita harus menunggu, ah aku pikir ALLAH punya kebijaksanaan yang cukup untuk menentukannya. Toh selama ini ALLAH tak pernah terlambat, DIA selalu tepat waktu. Lagipula sebentar atau lama itu harusnya tak terlalu menjadi masalah untuk yang memahami bahwa hidup bukanlah sekedar kumpulan waktu. Hidup adalah kumpulan kesadaran. Karenanya, nilainya bukan ditentukan dari seberapa sebentar atau lamanya, tapi seberapa banyak kesadaran yang kita miliki tentang kehidupan itu sendiri. Kesadaran yang menjelma menjadi hikmah juga pengalaman berharga dalam setiap episode kehidupan. Begitu juga dengan menunggu. Bukan permasalahan seberapa lama waktu tunggu, tapi tentang seberapa banyak hal berharga yang bisa kita dapatkan dari proses menunggu itu sendiri.

Lagipula, siapapun kamu nantinya, seperti apapun kamu yang dikirim ALLAH untuk menggenapiku, sekarang aku tak lagi merasa sedang menunggumu, sejak aku mengerti bahwa menunggu adalah bagian dari pertemuan itu sendiri. Jadi seumpama ALLAH baru mempertemukan kita setahun kemudian misalkan, maka sebenarnya pertemuan itu sudah dimulai sejak aku sadar dan mempersiapkan diri selayak mungkin untuk menyambutmu, siapapun kamu yang akan datang itu.

✿ Ketakutan ✿






Adalah ketakutan yang seringkali bersembunyi di balik kegagahan. Disimpannya rapat-rapat ketakutan itu. Takut orang lain tahu.

Adalah ketakutan yang seringkali menyulap janji menjadi harapan bagi orang lain. Meski tak sedikit yang nyatanya palsu. Diantara mereka ada yang sibuk menebar janji, dan yang lain sibuk mempercayai.

Adalah ketakutan yang seringkali membuat manusia hanya mampu berpindah tempat, tanpa sanggup berpindah hati.

Adalah ketakutan yang seringkali diulang-ulang dalam skenario hidup kita. Dengan itu kita begitu menghafalnya, seperti refrain dalam lagu-lagu. Yang pada akhirnya berhasil mengubah cara pandang kita memandang masa lalu: menertawainya bersama.

Adalah ketakutan yang seringkali diberangkatkan bersama waktu, yang katanya mampu mengobati hal-hal tertentu, termasuk luka dalam perasaanmu.

Adalah ketakutan yang seringkali membunuh akal sehat. Dicemaskannya berkali-kali. Takut diambil orang. Padahal rezeki tak pernah tertukar. Jika ALLAH tidak menakdirkan sesuatu (atau mungkin seseorang?) untuk kita, niscaya ia takkan pernah datang. Selama apapun kita menunggunya.

Adalah ketakutan yang seringkali menjelma menjadi kekuatan. Ibu dan ayahmu, misalnya. Ketakutannya kehilangan dirimu, membuat gravitasi seakan-akan berpusat padamu. Ia memperjuangkanmu, hidupmu, bahagiamu, semuanya. Bahkan mungkin hingga engkau sebesar ini.

Adalah ketakutan yang seringkali menjelma menjadi kegigihan. Sumayyah, ingatkah pada perempuan itu? Ketakutannya pada Pemilik Langit, membuat luka menganga tiada artinya. Jeritnya telah menjadi saksi, bahwa surga telah didekatkan padanya.

Adalah ketakutan yang seringkali menyulap kisah-kisah tidak mengenakkan, menjadi lebih pantas disyukuri.

Adalah ketakutan yang sanggup memendekkan jarak seseorang dengan apa yang sempat ditakutkannya.

Adalah ketakutan yang seringkali menjelma menjadi dirimu kini.

Jadi sampai disini, apa sebenarnya ketakutan terbesarmu?


Sincerely,

Aku, diantara ketakutan-ketakutanku..

Sunday, June 29, 2014

✿ ah, Pa, terminal akhir itu ✿ :'(



"Nak, suatu saat nanti kau akan mampu pahami, betapa majemuknya jalan hidup yang dilalui seseorang. 
Seperti hari ini, kau berpisah dengan Ayah menuju terminal yang berbeda. Namun, pada akhirnya kita menuju pada satu pemberhentian terakhir. Seberapapun sering engkau transit, ingat, kau selalu punya tujuan akhir. Jaga dirimu baik-baik..
Tidak selamanya engkau dalam penjagaan Ayah. 
Siapapun nantinya (manusia) yang menjagamu, semoga nantinya ia menemanimu dengan baik menuju terminal akhir. 
Semoga, kita dipertemukan lagi disana, di terminal akhir.” 


✿ Ramadhan di Bulan Juni ✿




Apa yang lebih manis dari Ramadhan di bulan Juni?
Pada siang-siangnya yang menguapkan lelah, memelukmu teduh.
Pada semilirnya angin meniup pipi, memudahkanmu tersenyum.

Apa yang lebih rindang dari Ramadhan di Juni?
Pada pohon yang dahannya berayun pelan-pelan, awan yang kelabunya memendar putih.
Dilatarinya aku mengeja rindu, tentang segala manis yang pernah merajai hati; di Ramadhan yg ku cintai.

Apa yang lebih kau inginkan lama berakhirnya, dari Ramadhan di Juni?
Teriknya yang tiada, hangatnya yang mendiami hati saja.
Dibiarkannya aku menghitung hari, dan berakhirnya masih lama.
Masih lama memukimkan bahagia di hati dalam teduh hari.

Apa yang paling manis dari Ramadhan ini? Di bulan Juni?
Lebih dari, ialah syukur bahwa kau dijumpakannya lagi.
Dengan merahnya senyummu, riangnya sambutmu, dan tumpuk bertumpuk misi mengisinya dengan cinta, dan cita menjadi yang dicintai-NYA.
Sebab Ibunda bilang, “tanda cinta adalah menikmati setiap perjumpaan, nak.”
Dijumpakannya aku, dengan puluhan hari yang sebelas bulan ditunggu berpeluh rindu. Maka menikmati hari, adalah berhias teruntuk IA.
Dijumpakannya dengan hari yang tiap detiknya bahagia saja memetik hati, melafal kalimat cintaNYA, dengan bayangan beribu bulir pahala, pelukan syurga, dan tatapan IA penuh cinta.
Dihentikannya aku sejenak dari rindu, dibiarkan bahagia menapak sebulan-nya, merenda riangnya, menumpuk kali lipat pahala, kiranya cukup pantas jadi yang mencintai IA.

Tiada yang lebih syahdu dari Ramadhan di Juni..
Tentang angin yang meniupi ringan pipi.
Hujan di waktu-waktu yang tuju jatuhnya memanisi bumi.
Sebab panas enggan menyengat ia-ia yang sedang dijumpakan dengan rindunya.
Se-penuh cinta ini aku rasa, bahkan ia lebih lagi.

Ramadhan di Juni.
Blessed moment; 1st Ramadhan, 1435 H.
:Semoga menjadi lebih baik lagi. Dijumpakan dengan ia yang kau rindu, semoga berbelas kali lebih baik dari berbelas bulan lalu kau pernah dipeluknya. ;karna cinta yang terbalas itu De, yang penuh pembuktian

Tuesday, June 24, 2014

✿ Nantinya..✿


Nantinya, kita tak perlu membaca buku yang sama.
Aku memahami cara berpikirmu, bukan ia yang menulis buku di hadapanmu itu.
Nantinya, kita tak perlu menikmati jenis masakan yang sama.
Bukankah di dunia ini memang begitu banyak bumbu?
Nantinya, kita tak perlu jatuh cinta pada langit yang sama.
Pagi atau senja, sama-sama cantiknya.
Nantinya, kita pun tak perlu jatuh cinta pada Bumi yang sama.
Timur atau barat, sama-sama dalam kuasa-NYA.
Nantinya, kita tak perlu sibuk dengan hobi yang sama.
Kau tahu, bahagia itu memang timbul dengan banyak cara.
Nantinya, kita tak perlu menikmati kopi dengan cara yang sama.
Bisa jadi kopimu tawar tanpa gula. Aku, sebaliknya.
Bahkan, tak perlu suka keduanya.
Bisa jadi, kau justru membencinya. Tidak masalah.
Nantinya, kita pun tak perlu selalu satu suara.
Ada kalanya suarakulah yang kau dahulukan, meski kecenderunganku pada perasaan, bukan rasionalitas.
Nantinya, kita memang harus siap dengan segala pertidaksamaan.
Sebab nantinya, hidup yang kita jalani seperti Aljabar, tidak melulu tentang persamaan.
Nantinya, kita memang tak perlu memiliki banyak kesamaan.
Sebab apa jadinya pelangi jika ia berwarna merah semua?
Dan nantinya, kita hanya butuhkan ini yang sama.
Ini, yang mereka sebut cinta.
Cinta kita adalah cinta karena-NYA.
Kita masih satu frekuensi, kan?
Sefrekuensi menuju Surga-NYA
Jika frekuensi kita tak senada,
mungkin ini saatnya berbenah.
Agar untuk soal ini, kita sama.

Saturday, June 7, 2014

✿ Ratink Cinta ✿



"Ya Rasulullah" kata Umar perlahan, "aku mencintaimu seperti aku cintai diriku sendiri."

Beliau Shallallahu'alayhi Wasallam tersenyum.
"Tidak, wahai Umar. Engkau harus mencintaiku melebihi cintamu pada diri dan keluargamu."

"Ya Rasulullah", kata Umar, "mulai saat ini engkau aku cintai melebihi apapun di muka bumi ini."

"Nah, begitulah wahai Umar."

Na menarik nafas dan berkata,
"Waawwww!!!, *eeh salah, MasyaALLAH*
Dalam sepersekian detik Umar mampu merubah ratink cintanya...kalo perempuan zaman sekarang bilang "gomballl".

Umar...semudah itukah? Dalam waktu sesingkat itukah? Hanya sekejap...hmmpp..andai Na juga bisa...tapi, ini begitu susah. Menurut Na cinta begitu komplek *Plak! Sok tau*. Keterikatan hati tak mudah untuk dialihkan. Dalam bahasa sebuah lagu alay, "sekali cinta aku tetap cinta". Sssttt -pernah dengar diangkot2- hehehe..
Tapi...Umar bisa..!!!!!!

Bdw, kok Umar bisa?

Menurut Ustd. Salim A. Fillah, cinta bagi Umar adalah sebuah kata kerja. Maka menata ulang cinta baginya hanyalah menata ulang kerja dan amalnya dalam mencinta.
Ia tak berumit-rumit dengan apa yang ada di hati. Biarlah hati menjadi makmum bagi kerja-kerja cinta yang dilakukan oleh amal sholeh...

Seperti Umar mencinta, cinta adalah sebuah kata kerja, Mencintai..cinta bukanlah gejolak di hati yang datang tiba-tiba saat melihat si 'baby face' bukaan..bukan itu..
Laiknya cinta pada ALLAH..ia tak datang serta merta..ia diupayakan, butuh pengorbanan..

So, ketika seseorang -maaf- bercerai dengan alasan "aku sudah tidak mencintainya", harusnya justru karena sudah tak mencintai maka cintailah ia.
Karena cinta adalah kata kerja, maka lakukan kerja itu, m-e-n-c-i-n-t-a-i..

*ah, lagi2 tau apa Na ttg cinta, paling cuma sekedar ceracauan yg ga jelas setelah Na denger curhatan ibu2 muda yg divorce karna alasan "sudah tak cinta"*