Sunday, March 16, 2014

✿ Hanya Pada ALLAH ✿


"Hanya pada ALLAH kuadukan susah & sedihku"; hanya DIA tujuan hidupku & ridhaNYA ujung pencarianku; bagiNYA takut, harap, cinta, & yakinku."

"Hanya pada ALLAH kuadukan susah & sedihku"; hingga kuibadahi DIA seakan-akan aku melihatNYA; dan teryakin diri bahwa DIA pasti melihatku."

"Hanya pada ALLAH kuadukan susah & sedihku"; DIA memiliki ganti yang lebih baik atas kehilanganku, nikmat yang lebih kekal dari nestapaku."

"Hanya pada ALLAH kuadukan susah & sedihku"; DIA-lah yang menjanjikan tiap perih, duka, & kecewa dibalas dengan naik derajat & hapusnya dosa."

"Hanya pada ALLAH kuadukan susah & sedihku"; tiada madharat & manfaat walau seluruh makhluq berhimpun tuk membuatnya kecuali dengan izinNYA."

"Hanya pada ALLAH kuadukan susah & sedihku"; yang menimpakan cobaan sebagai tanda cinta, agar tiada yang lebih besar di hati selain diriNYA."

“Hanya pada ALLAH kuadukan susah & sedihku”; kehilanganku lebih kecil daripada pemberianNYA, musibahku tiada arti dibanding nikmatNYA.”

“Hanya pada ALLAH kuadukan susah & sedihku”; DIA-lah yang menuliskan ketetapan bagiku, DIA-lah yang menguji tanpa melampaui batas kemampuanku.”

“Hanya pada ALLAH kuadukan susah & sedihku”; DIA tunda siksa atas dosa & sabar menanti taubat ini; dariNYA ku berasal & padaNYA aku kembali.”

"Hanya pada ALLAH kuadukan susah & sedihku"; DIA yang menambah-lipatkan nikmat jika aku bersyukur, DIA yang menutup aib jika aku bermaksiat."


-@salimafillah

Saturday, March 1, 2014

✿ Jangan-jangan ✿


Jangan-jangan,
ada yang sedang menunggumu di pekarangan rumahmu yang nyaman.
memintamu keluar sambil mengulurkan tangan.
katanya: “Mari sini masuk dalam barisan.”

Jangan-jangan,
ada yang sedang menantimu di luar sana.
mengajak berlari bersama-sama.
yang menanti tanpa hentikan larinya sendiri.
yang menyempatkan diri, -pada nafasnya yang sudah mulai satu-satu-, untuk mengangkat lenganmu yang terjerembab kelelahan.
Katanya: “Bertahanlah, ini hanya sementara. Kita BISA! Sebentar lagi kita tiba!”

Jangan-jangan,
ada yang rela menahan nafasnya berlama-lama, berenang berlelah-lelah,
demi membangunkanmu yang tidur terlena. tenggelam dalam samudera yang dalam.
Dia yang tiada menyerah memutus mimpi-mimpimu yang fana,
lalu membawamu kepada udara.

Jangan-jangan,
entah dimana,
ada yang mendoakanmu diam-diam.
Diam-diam berdo’a. Do’anya diam-diam.
'celakanya' ia mendoakanmu pada akhir pertiga malam.
ia yang demikian tulus menjauhkan lambungnya dari hangat selimut.
menahan dingin air wudhu pada pagi yang berkabut.

Demi namamu di dalam do’anya:
yang dirimu sendiri bahkan mungkin tiada yakin, apakah ia-nya pantas terlantunkan demi engkau yang ikhtiarnya bahkan tiada mencapai rata-rata.
Tapi beruntung, do’a dalam tahajjud mungkin ibarat anak panah yang dilepas dari busur dengan cermat: ia akan mengena sasaran dengan tepat.

Jangan-jangan pada suatu pagi yang indah, ketika kau membuka pintu depan rumahmu itu, secercah senyum telah melengkung di depan mata.
ruas-ruas jarinya bertemu ruas-ruas jarimu.
katanya padamu: “Ayo kita segera berangkat, tenang saja, untukmu sudah kusiapkan bekal terbaik yang pernah ada.”
Lalu kau melihat kotak yang ia bawa.
Ah, sungguh kau bahkan tak terfikirkan untuk sekedar menjamunya dengan secangkir teh hangat, sementara ia bersusah payah, berberat-berat membawa sebaik-baik  bekal perjalanan mendaki surga: 'taqwa'.

Jangan-jangan,
di luar sana ada yang berpeluh-peluh mendoakan kebaikanmu.
menanti kesiapanmu.
mengetuk pintu rumahmu, mengulurkan tangan menjemputmu

Jangan-jangan ia memang nyata ada.

Sementara, berkacalah.
lihat dirimu,
apakah benar namamu-kah yang memang pantas tertulis pada do’a yang melesat ke angkasa fajar itu?
apakah pundakmu itulah yang pantas ia rengkuh?
apakah pintu rumahmu itulah yang pantas ia ketuk?

Ah, benar! ia nyata ada.

Belum sempat kau memikirkan jawaban dari kepantasan dirimu sendiri, telah kau dengar ketukan lembut namun menghujam tepat di hati.
Tetaplah dalam lingkaran
Bersungguh dalam kebaikan
Perbanyak yang diam-diam

Tidakkah sekarang kau curiga?

bahwa telah tiba giliranmu untuk mengulurkan tangan, mengulurkan cahaya lain di tengah kegelapan.
ditemukan.
menemukan.
mencari.
menjadi.

:’)

*Di jalan dakwah, ukhuwah kita tercipta..di jalan dakwah juga kita menua, insyaALLAH*

✿ Jika Saat Itu Tiba, Ayah ✿


Jika saat itu tiba, Ayah
Saat seorang lelaki asing datang
Kemudian dengan berani-beraninya meminta sesuatu padamu
Tidak tanggung-tanggung
Yang ia minta adalah gadis kecilmu
Ketahuilah, Ayah
Sudah menjadi kewajibanmu menyerahkan ia pada saatnya
Pada saat telah genap masa balighnya
Memang tidak mudah, Ayah
Memang tidak akan pernah mudah
Tapi ketahuilah, Ayah
Sungguh seseorang telah jauh-jauh hari berpesan padamu
Pilihlah yang baik agama dan akhlaknya
Niscaya gadis kecilmu itu akan baik-baik saja

✿ Our Old Dream ✿


Kita pernah bersama, tertawa dibawah langit yang sama..
Mem-petakan langit, menghitung bintang..
Agak bodoh ku bilang, tapi gila lebih tepatnya..
Kita berdo’a, bermimpi, dan berencana..Masa depan kita akan sangat indah….
Keliling dunia, tinggal di Madinah, mereguk jutaan ilmu, jadi penulis, mengangkat nama agama kita. itu impian.. Ingatkah kau???
Saat kita bermimpi menjadikan Andunisia (baca:Indonesia) seperti Andalusia yang berjaya??? 

Mungkin itu terakhir…sebelum takdir berbicara, bahwa kita harus sadar impian butuh perjuangan dan pengorbanan di atas keistiqomahan..

Fa idzaa ‘azamta fa tawakkal ‘ala Allah – jika kamu telah membulatkan tekad (niat kuat) maka bertawakallah kepada ALLAH 

(Qs. Ali Imran (3): 159)

Wednesday, February 12, 2014

✿ Hallo (cinta) ✿


Hallo (cinta),
Sudah berapa lama kita tidak saling bersua?

Satu bulan..
  Dua bulan..
      Tiga bulan..
            Empat bulan..

Atau bahkan satu dekade..

Ada banyak kisah saat kamu tak ada. Tentu saja, bukan melulu tentang cinta kita yang semakin menua. Kita sama-sama belajar mendewasa. Seperti kamu tau, kita bukan lagi remaja merah merona dengan senyum malu-malu, tangan berkeringat, dan degupan jantung serupa desing peluru saat harus kembali bertemu. Banyak memori kita acuhkan begitu saja, mungkin karena terkadang kita perlu jeda dalam perjalanan ini.

Seringkali, kita menghabiskan waktu jumpa dengan sekedar bercerita. Bukan. Bukan saling bercerita seperti seharusnya, karena kamu hanya sibuk mendengarkan saja. Aku berceloteh tentang banyak hal; impian-impian kita, kekesalan-kekesalan yang tertunda, bahkan buku yang baru saja habis kubaca. Dan kamu tak pernah bosan mendengarkan semua cerita, juga semua doa di sela-selanya.

Terkadang aku memaksamu bercerita. Bercerita tentang apa saja. Semua cerita itu tak pernah benar-benar penting buatku, karena kehadiranmu adalah yang paling penting, dan mencintaimu tetaplah menjadi bagian terfavoritku dari semua cerita. Karena bahagia selalu sederhana. Bahagia menuliskan tiap lembar yang tersisa pada buku harianku dengan seluruh cerita-ceritamu, lalu menyelipkan beberapa bagian penting di dalamnya; sepertiga dengan namamu, sepertiga dengan namaku, dan sepertiga lagi dengan doa tentang kita. Tanpa perlu dipisahkan dari masing-masing bagiannya.
Betapa aku merindukan suara kita yang tertawa, yang bahkan aku hampir lupa bagaimana bunyi tawa itu. Dengan dua bola mata yang berbinar-binar bahagia, dan senyum dengan deretan gigi manis yang kamu banggakan setiap kita jumpa nanti, kamu selalu berhasil membuatku bahagia.

"Bukankah luka ini masih terlalu pagi, untuk membuat kita berhenti." tiap kali kita menjelma arakan gelombang emosi yang menderu. Karena tentu saja, mencintai adalah perihal menghadapi kesedihan-kesedihan dan tiap tetes air mata bersama-sama.
Lalu suatu hari kita berjalan bersama. Cukup langkahkan kaki perlahan saja. Tak perlu dengan langkah lebar dan tergesa, karena jemari kita masih harus saling menggenggam. Kita nikmati saja, karena kita masih harus sampai pada ujung perjalanan ini.

Maka jika cinta kita benar-benar tua suatu saat, selalu ada doa yang aku ucapkan diam-diam, “Tuhan, jadikan cintaku cinta yang baik untuk sepasang telinga yang kerap kali mendengarkan cerita ini. Dan jadikan aku mampu mencintainya dengan baik. Cinta yang selalu mengerti, bahwa dibalik punggung yang bergegas pergi, ada aku yang sedang menunggu,”

Tenang saja. Akan ada seseorang yang tidak akan kemana-mana sekalipun kamu dan dia terjebak dalam diam yang lama, sekaligus tetap tinggal mendengarkan dengan saksama, ketika kamu terlalu egois dan sibuk sendirian bercerita.

✿ Teruntukmu nanti, pangeran impian yang slalu menemani hari-hari lelahku...disini, ku menunggu hadirmu ✿

Monday, February 10, 2014

Barangkali ♥ (✿◠ ‿ ◠)


Barangkali aku jatuh cinta,
Pada rinai-rinai januari bersahaja,
Barangkali juga jatuh cinta,
Pada tetes-tetesnya yang memberi damai jiwa,
Barangkali aku jatuh cinta,
Pada energi langit yang seseorang dapat dari sujud di tiap malam sepertiganya,
Barangkali teramatnya aku jatuh cinta,
Pada akhirat yang ia tuju
Dan sepenuh hati mengamuflasekan dunia,
Barangkali Aku jatuh cinta,
Pada yang tak pernah menghentak, semarah apapun ia pada siapa,
Barangkali aku jatuh cinta,
Pada yang berjuang sekuat-kuat ia untuk diperhitungkan Rabb-nya menjadi yang IA cinta,
Barangkali aku ingin selamanya jatuh cinta,
Pada jalan pelangi ini, yang menghantarkan tenangnya jiwa, agungnya cinta, semunya duka,
Barangkali aku jatuh cinta,
Pada persephone,-warna disaat menutup mata..


*untaian kata berserakan di januari bersahaja* ♥ (✿◠ ‿ ◠)

Tuesday, January 7, 2014

✿ Cinta se-aneh itu ♥ (✿◠ ‿ ◠)





Kadang kita tidak bisa menemukan apa sebab pasti dari rasa cinta yang ALLAH semayamkan di hati.
Ia yang, ~ bisa pada sesuatu yang ‘belum jelas adanya’, bisa pada sosok yang belum pernah dikenal indera kita, bisa pada krucil-krucil yang baru hadir di beberapa tahun di depan, bisa pada sebuah bundel surat cinta berbahasa arab yang padahal tidak penuh kau tahu artinya apa, bisa pada sosok yang berkali-kali membuatmu menangis karena kesal dengan caranya mencintaimu penuh penjagaan (Ibu) , bisa pada sosok yang pernah kau benci sesaat karena emosi, juga bisa, pada sosok yang entah siapa, tapi kau memilih setia...

Cinta se-aneh itu.
Yang kita tahu hanya, saat ia menghuni hati, ada hangat yang nyaman di setiap melangkahi hari. Ada pagar penjaga dari hal-hal yang membuatmu jauh dari yang kau cintai, ada penjara tak kasat mata yang memenjarakan hatimu teruntuknya, ada energi super mega menggerakkan indera-inderamu untuk mampu melakukan apapun untuknya yang kau tidak pernah bisa begitu kepada yang tidak kau cinta..
ia, rasa yang tak mampu diterjemahkan semua kata di dunia..

Ibu bilang, “tidak mungkin seseorang bisa memperjuangkan yang tidak ia cintai”. Iya, bahkan seaneh itu cinta. Ia-nya kita rasai bukan dengan pelukan-pelukan manis semata. Terkadang, atau malah seringkali, ia tentang guratan perjuangan berdarah-darah yang membuat pejuangnya tetap tersenyum dalam luka, bahkan dalam meregang nyawa, atas nama memperjuangkan yang ia cinta.

Teringat Asy Syahid Sayyid Quthb, yang cinta pada akhiratnya tidak pernah membuatnya takut pada tiang gantungan. Tidak membuatnya takut pada cara mati yang tidak terhormat bagi orang se-mulia ia.. tidak membuatnya gentar akan segala nikmat dunia yang dicabut begitu saja dari hidupnya yang sebelum inqilab-nya, ia ditaburi itu semua.. perjuangannya, atas nama cinta tentu saja. Cinta kepada ALLAH yang membuat hangus segala cinta kepada selain-NYA..

Atau Syahidah, yang saat membaca biografinya membuat matamu menjadi kaca-kaca, ia yang mengajarkan Qur’an sejak belia usianya hingga menuju renta. Ia yang atas nama cinta, tidak takut dipenjarakan di penjara yang amat menakutkan semua wanita. Ah lupa, ia bukan wanita biasa tentu saja. Yang atas nama cinta pula, ia diselamatkan ALLAH dari gigitan anjing-anjing lapar yang seharusnya mengoyak habis tubuhnya. Atas nama cinta ALLAH kepada hamba yang Ia cinta.. Zainab Al-Ghozali Asy Syahidah. "Jauh bumi dari langit, Bunda. Tapi semoga kelak kita bisa bertemu. ;Sebagai syahidah yang amat besar cinta pada jalan-NYA, pada Qur’an-NYA, pada Rasul-NYA, dan paling Utama pada IA..

Cinta bisa mengubah kekurangpedulimu perihal tahun-tahun di depan sesudah membaca sebait pesan di buku tentang syahidah luar biasa dengan 13 anak, Ustadzah Yoyoh Yusroh,-Allahu yarham, yang berkata: “rahim seorang wanita harus dipersiapkan untuk melahirkan generasi terbaik. Oleh karena itu, makan lah hanya yang halal dan thayyib.” Lalu tiba-tiba saja kamu kehilangan seluruh nafsu makanmu saat berada di tempat makan yang kiranya tidak thayyib, atau thayyib tapi tidak halal. Lalu bisa saja kamu memuntahkan seluruh yang baru saja kamu makan begitu melihat anak ibu warung penjual makanan itu membawa lauk-nya dari rumah menuju warung dengan kantong plastik hitam yang tidak layak -_-.
Ringan saja menahan tergiurmu pada sekotak Breadtalk di depan mata sembari mengingat-ingat ia belum ada SH-nya. Juga pada traktiran Sushi yang kehalalan restaurant-nya diragukan.
Se-memberi kekuatan itu cinta. Pada yang padahal belum ada wujudnya.

Cinta se-aneh itu...
Se-aneh itu. Ia kadang sesuatu yang membuat bersemu malu-malu, di sisi lain ia yang membuat jadi sangat berani. Ia kadang suatu yang menghangatkan dada, namun bisa pula membuat bermalam-malam menangisinya.

Cinta se-aneh itu...
Ia bisa membuatmu menangis tergugu penuh rindu. Padahal sejak lauhul mahfudz belum kering tintanya, ALLAH menulis takdir bahwa kau takkan pernah bertemu dengannya di dunia. Apalagi memandanginya, menikmati teduh pancaran sinar wajahnya. Jauh lagi mampu mendekapnya. 
Ia hadir seaneh itu. Mungkin cinta itu mulanya dari berbelas tahun lalu seorang abi mengantar tidurmu dengan bercerita tentang sosoknya. Lalu pemantik rindu setelahnya sederhana saja. Hanya tersebab membaca-baca literatur ringan tentangnya. Bukan yang setebal shiroh nabawiyah. Ia ‘hanya’ ensiklopedi pembuka karangan seorang ekonom muallaf yang luar biasa. Juga dua novel yang mengisahi tentangnya dengan amat sastra. Rasulullah Muhammad.. takut sekali bila rindu ini tak pantas terpenuhi. Kelak di surga, entah tempatku dan engkau sejauh apa mata mampu memandang. Hingga dalam pasrah tak lelah berdoa penuh harap, moga setidaknya si pencinta ini layak, beroleh gelas dari cidukanmu di telaga kautsar.. 
saat itu saja bertemu, semoga mampu memenuhi sewindu rindu. Ah, iri sekali dengan anak-anakmu, istri-istrimu, sahabat-sahabatmu.. di dunia-akhirat mereka membersamaimu. Entah apa wajar menangis karna takdir yang memutuskan aku bukan satu dari mereka.. I felt a pang of jealousy..

"alangkah indahnya hidup ini…andai dapat kudekap dirimu… tiada kata yang dapat aku ucapkan..hanya Tuhan saja yang tahu.." dan bait-bait nasyid itu mewakili seluruh ungkapan hati. Diputar dengan tersedu saat buku tentang kekasih ALLAH itu kau baca dengan seluruhnya jiwa."

Cinta, ia bisa se-aneh itu...
Yang membuat orang yang mencintaimu mencintai hal yang sama..
Tentang mengeja hari dan musabab apa yang membuat ibu semampu itu berkuat diri. Senyaman itu ia menjalani hari. Padahal sepenelusuran, tidak sepi jengkal usianya dari uji lagi, dan uji lagi. Sederhana saja rupanya. Sederhana yang dijalani tak semudah membalik telapak tangan, sebab ia berbalas surga. “bersama-NYA, dalam dera apapun menimpa.” Sejak menemukan jawaban, aku tidak tahu doa apalagi yang lebih indah dan mencukupkan segala untuk aku panjatkan selain, “ALLAH, karuniakan kepada kami, rasa cinta yang tumbuh bertumbuh kepadaMU, dari hari ke hari..”

Cinta bisa membuat orang se-yakin itu...Saat ibu bilang “bersabarlah dalam taat. Yang baik teruntuk yang baik, dan tidak pernah ALLAH sayang ia yang bermaksiat..”.yakin itu yang dimulai dari tidak akan pernah tega membuat ibu kecewa bila kelak menemukan puterinya bermaksiat pada ALLAH, meletakkan cintanya pada hal remeh, dan waktu yang belum seharusnya... Seringan itu saja ia melewati cobaan-cobaan yang sulit tentang hal yang bernegasi dari apa yang ibu amanahi.. “yang menjaga untuk yang menjaga. Yang bermain rasa, bagi yang bermain rasa.” Se-percaya itu, dan que sera-sera..

Entah bagaimana bila cinta itu tidak aneh...tidak paradoks, tidak anomali... 
Dengannya mungkin biasa saja hari. Tidak penuh perjuangan, tidak penuh penjagaan, tidak penuh doa yang beriringan, tidak penuh degup, tidak penuh takut, tidak penuh warna-warni-nya rasa, apa indahnya? 

Ia yang di satu sisi lelah kita menjalaninya..namun ia menjadi ruang kita beristirahat. Ia yang membuat kita terus memberi, namun dengannya kita terpenuhi. Ia yang membuat kita berjuang, namun kita rasanya beroleh rasa menjadi yang diperjuangkan. Kita mencintai, menujuNYA, mungkin sedikit saja...
Setapak, lalu setapak lagi. Dan IA balas mendatangi dengan berlari. Cinta itu, kurang apa paradoksnya?

Jauh lagi.. apa jadinya bila mengibadahi IA tanpa cinta? memperjuangkan dakwah ini tanpa cinta? menghafal kalamNYA tanpa cinta? mencintai Ibu-Ayah,adik-adik tanpa cinta kepada-NYA? apa indahnya? apa bisa?

Sungguh-sunguh Yaa ALLAH kami pinta..“jadikan rasa cinta di hati kami kepadaMU, adalah cinta yang tumbuh bertumbuh dari hari ke hari..”

"cinta kepada ALLAH adalah ladang paling subur, ianya penyebab tumbuh cinta kepada sesama, dan kepada apa-apa yang IA cinta"

Dan cinta memang se-aneh itu... ♥ (✿◠ ‿ ◠)