Monday, September 2, 2013

☂ Tata Cara Sujud ☂


Tata Cara Sujud
Kategori: Majalah AsySyariah Edisi 081


Oleh  Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim

Tata cara sujud Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa sallam berdasarkan hadits dan kabar yang datang dalam masalah ini adalah sebagai berikut :

1. Sujud diatas tujuhtulang;
dahi dan hidung (teranggap satu bagian), kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua ujung telapak kaki. Artinya, ketujuh anggota tersebut harus menempel ke lantai saat seseorang sujud, tidak boleh terangkat. Hal ini ditunjukkan oleh hadits Abdullah bin Abbas yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa sallam bersabda,
أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ—وَفِي رِوَايَةٍ: أُمِرْنَا أَنْ
نَسْجُدَ—عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ: عَلَى الْجَبْهَةِ—
وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ—، وَالْيَدَيْنِ— وَفِي لَفْظٍ:
الْكَفَّيْنِ—، وَالرُّكْبَتَيْنِ، وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ…
“Aku diperintah (dalam satu riwayat, “Kami diperintah”1) untuk sujud di atas tujuh tulang: di atas dahi—dan  beliau mengisyaratkan tangannya ke atas hidung2—, dua tangan(dalam satulafadz, “dua telapak tangan”3), dua lutut, dan ujung-ujung dua telapak kaki.” (HR. al-Bukhari no. 812 dan Muslim no. 1098)
Dalam hadits al-Abbas ibnu Abdil Muththalib disebutkan, Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa sallam bersabda,
إِذَا سَجَدَ الْعَبْدُ سَجَدَ مَعَهُ سَبْعَةُ آرَابٍ: وَجْهُهُ،
وَكَفَّاهُ، وَرُكْبَتَاهُ، وَقَدَمَاهُ
“Apabila seorang hamba sujud, sujud pula bersamanya tujuh anggotanya: dahinya, dua telapak tangannya, dua lututnya, dan dua telapak kakinya.”
(HR. Muslim no. 1100)

Tidak Cukup Hanya Menempelkan Dahi atau Hidung

Disebutkan di atas bahwa dahi dan hidung teranggap satu tulang/anggota, lantas apakah mencukupi apabila hanya salah satunya yang menempel ke bumi, ataukah harus kedua-duanya?
Dalam hal ini ada perselisihan di kalangan ulama. Abu Hanifah dan Ibnul Qasim dari kalangan pengikut al-Imam Malik berpandangan cukup sujud di atas salah satunya, hidung atau dahi saja. Kebanyakan fuqaha mazhab Syafi’i menganggap boleh sujud di atas sebagian dahi.
Namun, Ibnul Mundzir menukilkan adanya ijma’ sahabat tentang tidak sahnya sujud hanya di atas hidung tanpa dahi. Adapun jumhur berpendapat cukup sujud di atas dahi saja.

Sementara itu, al-Auza’i, Ahmad, Ishaq, Ibnu Habib dari kalangan mazhab Maliki, dan selain mereka menyatakan wajib menempelkan dahi dan hidung saat sujud. Ini adalah pendapat asy-Syafi’i juga (FathulBari 2/384, al-Minhaj,4/431). Pendapat inilah yang benar, insyaAllah, dengan dalil adanya perintah untuk sujud di atas dahi dan hidung.

Tidak Wajib Membuka Dahi Saat Sujud

Bisa jadi, saat sujud, dahi tertutup oleh pakaian yang dikenakannya, seperti kerudung yang dipakai oleh seorang wanita. Namun, kerudung yang menutupi dahi tersebut tidak wajib diangkat agar dahi bisa langsung bersentuhan dengan tempat sujud.
Al-Imam an-Nawawi t dalam al- Majmu’ (3/403) mengisyaratkan bahwa hal tersebut tidaklah wajib, termasuk pula membuka anggota sujud lainnya, seperti dua telapak tangan, dua lutut, dan ujung-ujung dua telapak kaki. Menurut beliau, penamaan sujud telah tercapai dengan meletakkan anggota-anggota sujud tanpa perlu membuka/menyingkap penutupnya.

Anggota Sujud Tidak Sekadar Disentuhkan ke Lantai

Rasulullah benar-benar menempelkan hidung dan dahinya ke lantai saat sujud, sebagaimana ditunjukkan oleh  hadits Abu Humaid as-Sa’idi z yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 270) dan Abu Dawud (no. 723), serta dinyatakan sahih dalam al-Misykat (no. 108).
Beliau berkata kepada sahabat yang salah shalatnya(al-Musi’uShalatahu) sebagaimana dalam hadits Rifa’ah ibnu Rafi’ radhiyallahu 'anhu,
إِذَا سَجَدْتَ فَمَكِّنْ لِسُجُوْدِكَ
“Apabila engkau sujud, mapankan sujudmu(dengan benar-benar menempelkan anggota sujud kebumi).” (HR. Abu Dawud no. 859, dinyatakan hasan dalam Shahih Abi Dawud)
Dalam sebuah riwayat,
إِذَا أَنْتَ سَجَدْتَ فَأَمْكَنْتَ وَجْهَكَ وَيَدَيْكَ
حَتَّى يَطْمَئِنَّ كُلُّ عَظْمٍ مِنْكَ إِلَى مَوْضِعِهِ
“Apabila engkau sujud, mapankan wajah dan kedua tanganmu (di tempat sujud) hingga seluruh tulangmu tenang ditempatnya.” (HR. IbnuKhuzaimah no. 638 dengan sanad yang hasan, al-Ashl, 2/733) Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa sallam juga menyatakan,
لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ يُصِيْبُ أَنْفَهُ مِنَ الْأَرْضِ مَا
يُصِيْبُ الْجَبِيْنُ
“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak menempelkan hidungny kebumi sebagaimana halnya dahi.”
(HR ad- Daraquthni no. 1303, al-Baihaqi 2/104, dan al-Hakim 1/270, dari Abdullah ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu)

Al-Hakim menyatakannya sahih menurut syarat al-Bukhari. Hal inidibenarkan oleh adz-Dzahabi. Al-Imam Albani menyatakan bahwa hadits ini sebagaimana yang dikatakan oleh keduanya, hanya saja ad-Daraquthni, al-Baihaqi, dan at-Tirmidzi mengatakan ada ‘illatnya, yaitu hadits ini mursal.
Akan tetapi, ada riwayat dari Ikrimah dari jalur yang lain secara maushul (bersambung sanadnya) sehingga riwayat yang mursal tersebut menjadi kuat. Ada pula riwayat pendukungnya dari hadits Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu 'anha yang dikeluarkan oleh ad-Daraquthni (no.1302) dan hadits Ummu Athiyyah radhiyallahu 'anha yang dikeluarkan oleh ath-Thabarani.(al-Ashl, 2/735)

2. Kedua tangan ikut sujud bersama wajah dan diangkat saat wajah diangkat. Dalilnya adalah sabda Nabi Shallallahu ‘Alayhi Wa sallam ,
إِنَّ الْيَدَيْنِ تَسْجُدَانِ كَمَا يَسْجُدُ الْوَجْهُ، فَإِذَا
وَضَعَ أَحَدُكُمْ وَجْهَهُ فَلْيَضَعْ يَدَيْهِ، وَإِذَا رَفَعَ
فَلْيَرْفَعْهُمَا
“Sesungguhnya kedua tangan itu sujud sebagaimana halnya wajah bersujud. Apabila salah seorang dari kalian meletakkan wajahnya, hendaknya ia meletakkan kedua tangannya.Apabila ia mengangkat wajahnya, hendaknyaia mengangkat kedua tangannya pula.”
(HR. Abu Dawud no. 892danlainnya dari hadits Abdullah ibnu Umar radhiyallahu 'anhu , dinyatakan sahih dalam al-Irwa no. 313)

3. Saat sujud, Rasulullah bertumpu di atas kedua telapak tangannya. Hal ini sebagaimana termuat dalam hadits al-Bara’ ibnu ‘Azib radhiyallahu 'anhu , ia berkata,
يَسْجُدُ عَلَى أَلْيَتَيْ الكَفِّ n كَان رَسُوْلُ اللهِ
“Adalah Rasulullah  Shallallahu ‘Alayhi Wa sallam sujud diatas kedua telapak tangan bagian dalam.”
(HR. al-Hakim 1/227, al-Baihaqi 2/107, Ahmad 4/295. Lihat al-Ashl, 2/726)

4. Jari-jemari didekatkan (tidak direnggangkan) dan diarahkan ke kiblat. Wail ibnu Hujr radhiyallahu 'anhu menyebutkan,
كَانَ إِذَا سَجَدَ ضَمَّ أَصَابِعَهُ n أَنَّ النَّبِيَّ
“Apabila Nabi  sujud, beliau merapatkan jari-jemarinya.”
(HR. IbnuKhuzaimah no. 642, al-Hakim 1/227, dan al-Baihaqi 2/112, dengan sanad yang hasan. Lihat al- Ashl, 2/727)

Al-Bara’ radhiyallahu anhu mengabarkan,
إِذَا رَكَعَ بَسَطَ ظَهْرَهُ، وَإِذَا سَجَدَ n كَانَ النَّبِيُّ
وَجَّهَ أَصَابِعَهُ قِبَلَ الْقِبْلَةِ
“Apabila Nabi  Shallallahu ‘Alayhi Wa sallam rukuk, beliau membentangkan punggungnya, dan apabila sujud beliau mengarahkan jari jemarinya ke arah kiblat.”
(HR. al- Baihaqi 2/113, dengan sanad yang sahih, lihat al-Ashl 2/639)

5. Kedua telapak tangan Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wa sallam diletakkan sejajar kedua pundak. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh hadits Abu Humaid as-Sa’idi radhiyallahu 'anhu,
وَنَحَّى يَدَيْهِ عَنْ جَنْبَيْهِ، وَوَضَعَ كَفَّيْهِ حَذْوَ
مَنْكِبَيْه
“Beliau  menjauhkan kedua tangannya dari kedua pinggangnya dan Meletakkan kedua telapak tangannya setentang kedua pundaknya.”
(HR. at-Tirmidzi no. 270, Abu Dawud no. 734, dll., dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi, Shahih Sunan Abi Dawud, dan al-Misykat no. 108)

Terkadang, tangan diletakkan setentang dengan kedua telinga, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Wail ibnu Hujr radhiyallahu 'anhu  dari jalan Zaidah,yang menceritakan tata cara shalat Rasulullah  Shallallahu ‘Alayhi Wa sallam yang disaksikannya. Di antaranya, Wail mengatakan,
ثُمَّ سَجَدَ فَجَعَلَ كَفَّيْهِ بِحِذَاءِ أُذُنَيْهِ
“Beliau lalu sujud dan meletakkan kedua telapak tangannya sejajar dengan kedua telinganya.”
(HR. Abu Dawud no. 726, an-Nasa’i no. 889, dll., dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud, Shahih Sunan an-Nasa’i, dan al-Irwa’ 2/68—69)


Tuesday, June 11, 2013

☂ Dermaga Itu...☂



Di dermaga itu, satu persatu kapal sudah berlayar, dan banyak yang sedang mempersiapkan pelayarannya...
Dan aku?
Masih memandangi samudra dari kejauhan...
Kapan akan berlayar pula?
Entahlah

Wednesday, May 22, 2013

✿Yaa Ummi..✿



¤Lasaufa a'udu Ya Ummy uQobbilu Ro'sakizzaki..
"aku pasti kembali padamu ibu akanku kecup dahimu yang suci"

¤abuttuki kulLa AsywaaQy Wa Arsufu I'thrOyumnaaki.
"akanku tumpahkan semua rinduku padamu dan kuhirup harum tangan kananmu"

¤umarrighu fii tsaroo Qodamaiki khoddi hiina alqOki.
"ku basahi pipiku dengan sejuk embun telapak kakimu"

¤urowwitturba min dam'iy suruuron fi muhayyaki.
"akanku basuh debu dengan air mataku (sebagai ungkapan rasa) gembira karna engkau masih hidup"

¤fakam asharti min lailin li arqodamil'i ajfaany.
"sudah tak terhitung berapa malam yang kau lewati tanpa tidur demi aku bisa tidur lelap"

¤fakam adzhma'ti min jaufin litarwiiny bitahnaany.
"tak terhitung pula berapa kali engkau menahan haus dengan mengobati rasa hausku dengan kasih sayangmu"

¤wa yauma maridhtu la ansaa dumu'an mingki kal mathory.
"diwaktu aku sakit aku tidak lupa air matamu mengalir deras bagai hujan"

¤wa a'inan minki saahirotan takhoofu a'layya min khothori.
"dan kedua matamu yang terus terjaga karna engkau begitu menghawatirkan keadaanku"

¤yahaarul Qouli fi washfilladzi laqoiti min hajary.
"waktu itu kata2pun tak mampu mengungkapkan sakitnya perasaanmu ketika aku tinggalkan"

¤waqultu maquulatal azilatu muddzakiron biha dahry.
"dan engkau mengucapkan perkataan yang selalu akanku ingat sepanjang hidupku"

¤bibirrika ya munaa u'mriy ilaahul kauni aushoony.
"berbakti kepadamu adalah cita2ku, Tuhan Semesta memerintahkan agar aku berbuat demikian"

¤ridhoo'uki sirru taufiqy wa hubbiki wamdu iymany.
"kerelaanmu adalah kunci keberhasilanku dan cintamu adalah rahasia imanku"

¤washodqu du'aiki infarojat bihi kurobiy wa ahzany.
"keikhlasan doamu menghapus kesusahan dan kesedihanku"

¤widaaduki la yusyaathiruny bihi ahadun minal basyari.
"cintamu tidak ada seorangpun yang dapat menyamainya"

¤fa antil nabdhu fi Qolby.
"engkau detak jantungku"

¤fa antin nuury fi bashory.
"engkau cahaya dimataku

¤wa antillahnu fi syafaty.
"dan engkaulan nada dibibirku

¤biwajhiki yanjaly kadary.
"kesusahanku sirna ketika aku memandang wajahmu"

¤ilaiki a'udu ya ummy ghodan artaahu min safary.
"kepadamu wahai ibu aku akan kembali"

¤wa yabda'u a'diyatssany wa yazhuul ghoshni bizzahry.
"dan ranting2 pun akan menampakkan bunganya"


by : Ahmed Bukhatir

*nie Khusus Ku Persembahkan untukmu ya ummi..
La Tahzany ya ummy inNy Qod ataitu ilaiki wa dumu'iy madziroh. "jangan bersedih wahai ummy kini aku datang sedangkan air mataku mengalir deras"
La Tahzany ya ummy.
La firoqul ba'dal yaum ilLa firoqul manaam.
"jangan bersedih wahai ummy tidak ada perpisahan setelah ini kecuali perpisahan ketika aku tidur"

Thursday, April 18, 2013

✿ Tentang Cinta: Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam dan Pengemis Tua ✿




#CeritakuUntukmu#

Tentang Cinta: Muhammad dan Pengemis Tua

Sudah lama aku tak bercerita kepadamu. Seperti juga engkau yang sudah lama tak lagi bernyanyi untukku atau sekedar mencandaiku. Entah karena apa. Entah kenapa. Tiba-tiba hening begitu saja. Hingga tiba-tiba malam ini, malam di mana aku ingin bercerita kepadamu. Tentang cinta.

Sadarkah engkau, bahwa manusia semakin sempit memaknai cinta. Manusia mengira bahwa cinta adalah sekedar hubungan dua jenis manusia berbeda yang terbakar asmara. Lalu, senang gembira. Atau kecewa, yang anehnya enggan diterima.  

Engkau sabarlah sebentar, untuk mendengar ceritaku.

Di sudut pasar kota Madinah, ada laki-laki pengemis tua yang buta. Ia seorang Yahudi. Bajunya kotor dan kumal, dari mulutnya terus-menerus terlontar sumpah-serapah. Tak bosan-bosannya setiap hari ia mengumpat dan menghina nama Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam. Meski ia tak pernah melihat seperti apa sosok yang selalu dihinanya itu.

"Hati-hati kalian terhadap Muhammad! Dia itu penipu, pendusta, tukang sihir. Jangan pernah kalian dengarkan ucapannya. Jika tidak, kalian akan tersesat!!"

Setiap hari, ada seseorang yang selalu memberinya makanan. Bahkan tidak hanya memberikannya, ia pun menyuapinya. Dialah Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam. Jika makanan itu terlalu sulit untuk dicerna oleh pengemis itu, maka Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam akan terlebih dahulu menghaluskannya. Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam tidak pernah berkata-kata kepadanya. Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam hanya datang membawa makanan lalu menyuapinya.

"Aku ingatkan kepadamu hai laki-laki berhati lembut.. Waspadalah pada Muhammad. Jangan pernah engkau tertipu dengan ucapannya yang pernuh dusta itu!" Umpatnya pada Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam yang sedang menyuapinya. Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam tersenyum dan mengusap-usap pundak pengemis tua itu. Demikianlah yang terjadi setiap hari.

Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam tak pernah berhenti menyuapinya, sebagaimana pengemis tua itu yang tak lelah memakinya. Hingga suatu ketika, ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala memanggil kembali Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam  menghadap-NYA. Bumi berselimut duka. Kabar ini dengan cepat tersebar ke seantero kota dan berbagai pelosok negeri. Tak terkecuali kepada telinga pengemis tua itu.

Betapa girang gembiranya ia mendengar kabar kematian Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam. "Muhammad sudah mati! Muhammad sudah mati!" teriaknya kepada orang-orang di pasar. Tangannya ia angkat-angkat, mata butanya nyalang ke segala arah bergerak-gerak.

Namun, seiring berita kematian Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam, tak ada lagi yang datang setiap hari untuk memberinya makan. Tak ada lagi yang dengan tulus lembut menghaluskan makanan dan menyuapinya. Tiada lagi orang yang setia mendengar umpatan dan hinaannya tentang Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam, sembari mengusap-usap pundaknya. Tiada lagi..

Di suatu ketika, Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu 'Anhu, sahabat Muhammad Rasulullah, datang berkunjung ke rumah putrinya, yang juga istri Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam , Aisyah Radhiallahu 'Anha.

"Putriku, adakah kebiasaan suamimu yang belum aku perbuat?" Tanya Abu Bakar Radhiallahu 'Anhu pada putrinya.

Aisyah Radhiallahu 'Anha. menjawab, "Ayah, sungguh engkau adalah sahabat suamiku yang paling dekat dengannya. Engkaulah yang paling baik mengikuti sunnahnya. Namun, masih ada satu kebiasaannya yang belum ayah lakukan.."

"Apakah itu?"

"Muhammad Rasulullah setiap hari selalu pergi ke sudut kota Madinah. Ia datang ke sana untuk memberi makanan seorang pengemis Yahudi tua yang buta."

Mendengar cerita putrinya, Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiallahu 'Anhu. bergegas untuk melakukannya. Di pagi hari, Abu Bakar Radhiallahu 'Anhu pergi ke sudut pasar Madinah. Ia pun menemukan seorang pengemis tua buta yang diceritakan putrinya. Abu Bakar Radhiallahu 'Anhu  mendekatinya. Pengemis tua itu bisa merasakan kedatangan seseorang kepadanya.

"Siapa engkau?!" Tanya pengemis tua itu dengan nada kasar.

"Aku orang yang biasa setiap hari datang untuk memberimu makan." Jawab Abu Bakar Radhiallahu 'Anhu sembari meletakkan makanan di dekatnya.

Sejenak terdiam.. Lalu pengemis tua itu berkata, "Bukan! Engkau bukan orang itu. Orang itu selalu datang memberi makanan kepadaku dengan menyuapi aku."

Mendengar ucapan pengemis tua itu, terharulah Abu Bakar Radhiallahu 'Anhu. Seketika ia teringat kepada sosok Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam yang teduh, santun dan selalu penuh kasih terhadap sesama. Mata Abu Bakar berkaca-kaca.

Dengan tangan sedikit gemetar  menahan haru, Abu Bakar Radhiallahu 'Anhu mengambil sesuap makanan dan mulai menyuapi pengemis tua itu. "Akulah orang yang engkau maksud." Ucap Abu Bakar.

Namun, lagi-lagi pengemis tua itu menghardiknya, "Bukan! Engkau berbohong! Engkau bukan orang itu. Jika benar engkau orang itu, tentu aku tidak akan kesulitan mengunyah makanan ini. Orang itu selalu melembutkan makanan sebelum disuapkan kepadaku sehingga aku mudah memakannya. Siapa engkau sebenarnya??!" Pengemis tua itu geram.

Abu Bakar Radhiallahu 'Anhu tak kuasa lagi membendung air matanya. Pipinya basah. Betapa Abu Bakar Radhiallahu 'Anhu merindukan Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam . Rekaman sosok manusia mulia itu berputar kembali di benaknya.

"Siapa engkau sebenarnya??!" Tanya pengemis tua itu semakin geram.

Dengan suara bergetar, Abu Bakar Radhiallahu 'Anhu menjawab, "Engkau benar, aku bukanlah orang yang engkau maksud. Aku adalah Abu Bakar, salah seorang sahabatnya. Orang yang engkau maksud telah tiada. Dia telah wafat. Dia adalah Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam ."

Deg! Bagaikan dihantam gada, betapa terkejutnya pengemis tua itu. Orang yang setiap hari tak pernah lupa untuk membawakannya makanan dan menyuapinya adalah Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam  yang selalu ia maki. Dialah Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam , sosok yang selama ini teramat ia benci. Dialah Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam , sosok yang setiap hari setia mendengarkan umpatan dan caciannya sembari menyuapinya dengan lembut dan mengusap-usap pundaknya.

Bagaikan ditimpa reruntuhan langit, pengemis tua itu duduk terpuruk di atas tanah. Tak berdaya. Sungguh ia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Betulkah yang engkau ucapkan itu?" Nada suaranya merendah.

"Benar. Ada apakah gerangan?!" Abu Bakar Radhiallahu 'Anhu bertanya heran.

"Kalau begitu, sungguh ia adalah manusia mulia. Selama ini, dia tidak pernah marah sedikitpun dan tetap menyuapi aku dengan penuh kasih meski setiap hari pula aku mengumpat dan menghinanya, di depan matanya sendiri. Aku sungguh menyesal. Bagaimana caranya jika aku ingin menjadi pengikutnya?" Pengemis tua itu berlinang air mata.

Abu Bakar Radhiallahu 'Anhu akhirnya menjadi saksi pengemis tua itu mengucapkan kalimat syahadat.

Demikianlah, Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam . Sosok yang selalu menghadapi permusuhan dan kebencian dengan kasih sayang. Sehingga marah murka yang mengarah kepadanya, berganti menjadi iman dan cinta.

Ini ceritaku untukmu. Sungguh, aku tak bermaksud mengguruimu. Aku hanya ingin mengajakmu menelusuri labirin sejarah agama kita. Menelusuri lorong-lorong masa silam tentang manusia mulia yang bahkan hingga akhir hayatnya, tak berhenti memikirkan umatnya. Ia yang tak pernah berhenti mengkhawatirkan engkau, aku, mereka. Ia yang tak pernah surut mencintai kita.

Aku hanya ingin mengajakmu merasakan cintanya. Ia memang telah tiada. Namun, ia tak pernah meninggalkan kita. Sadarkah engkau, tentang pengorbanannya yang tiada terperi demi mengantarkan kita kepada nikmat teragung: nikmat iman. Bisakah engkau merasakan cintanya?

Wednesday, March 27, 2013

✿ cinta itu ✿


Cinta adalah keyakinan, seperti Nabi Ibrahim Alayhis Sallam yang dibakar api, dan terus lanjutkan dzikir, hingga terkisahlah mukjizat itu; api yang tak membakar

Cinta adalah kepercayaan, seperti Siti Hajar yang rela ditinggal di tengah gurun, cukuplah ia berucap, “Jika ini kehendak ALLAH, maka Ia tidak akan menyia-nyiakan kami”

Cinta adalah kepatuhan, seperti Nabi Ismail Alayhis Sallam yang rela disembelih, lewati ujian keimanan yang begitu beratnya, maka termasuklah ia hamba yang bersabar

Cinta adalah kesepahaman, seperti Khadijah Radhiallahu 'anha yang tak perlu bertanya panjang, cukup menyelimuti dan memberikan kehangatan, setelah wahyu pertama kali diturunkan. “ALLAH tidak akan menghinakanmu..”

Cinta adalah pengharapan, layaknya Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wasallam yang tak rela penduduk Thaif diadzab dengan gunung yang menimpa, seraya berujar, “Justru aku berharap, kelak akan ada generasi dari sulbi mereka yang tidak akan menyekutukan ALLAH!”

Cinta adalah kebahagiaan, seperti Aisyah Radhiallahu 'anha dan Rasululullah Shallallahu 'Alayhi Wasallam yang berlomba lari, di suatu saat Aisyah Radhiallahu 'anha yang menang, di kala yang lain Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wasallam mengalahkan.

Cinta adalah kerelaan, layaknya Salman Alfarizi yang memberikan mahar dan persiapan walimah, kepada Abu Dzar yang ternyata lebih dipilih oleh wanita yang ia pinang

Cinta adalah keteguhan, seperti Bilal yang bertahan dengan “Ahad!” meski cambuk dan dera menyiksa diatas tanah panas yang melelehkan.

Cinta adalah ketenangan, saat keduanya dalam gua, lalu Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wasallam berucap pada Abu Bakar Radhiallahu 'anhu, “Janganlah bersedih, sebab ALLAH bersama kita”

Cinta adalah kebeningan, saat Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wasallam wafat, Abu Bakar Radhiallahu 'anhu yang paling dicintainya yang pertama kali tersadar, “Barangsiapa menyembah Muhammad maka sungguh Muhammad telah wafat.” ucapnya, “Namun siapa yang menyembah ALLAH, maka sesungguhnya ALLAH kekal!”

Cinta adalah kesadaran, seperti isak Umar Radhiallahu 'anhu saat melihat harta melimpah di masa kepemimpinannya, “Jika ini baik, mengapa tidak terjadi di zaman Rasulullah dan Abu Bakar?”

Cinta adalah penerimaan, seperti Nailah yang belia, menjadikan Utsman Radhiallahu 'anhu yang telah berusia senja sebagai pendampingnya, sebab “Masa mudamu telah kau habiskan bersama Rasulullah”

Cinta adalah pengorbanan, seperti Ali Radhiallahu 'anhu yang sempat mengira Fatimah Radhiallahu 'anha akan dinikahkan dengan Abu Bakar Radhiallahu 'anhu, “Aku mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku utamakan Fatimah atas cintaku.”

Cinta adalah penjagaan, seperti Fatimah Radhiallahu 'anha yang menunggu saat yang tepat, dikala Ali Radhiallahu 'anhu telah halal baginya,“Dulu aku pernah cintai lelaki sebelum menikahimu.” ucapnya, “dialah kau.”

♥ (✿◠ ‿ ◠) ♥

Wednesday, March 13, 2013

✿ episode srikandi langit ✿




"Aku tawarkan diriku padanya karena aku melihat surga terbentang di sana, di kehidupannya yang susah dan jauh dari kemewahan...

Kuberanikan diriku dan kukuatkan azzamku karena aku berharap bisa seperti Bunda Khadijah yang merelakan hartanya di jalan-NYA atau seperti Ummu Sulaim yang memenangkan cinta di atas cinta...

Tapi sepertinya aku hanyalah hamba yang hina hingga ALLAH pun tak mengabulkan cita-citaku menjadi srikandi langit seperti mereka...Jadi beginilah aku yang sebenarnya, ternyata tak punya nilai di hadapan-NYA hingga tak cukup layak mendampingi lelaki zuhud seperti dia..."




*Padang...dalam episode Srikandi langit...beberapa tahun silam*

Friday, March 1, 2013

✿ dan sayatan itu.....✿




Terkadang guru kehidupan memang bukanlah kebahagiaan, melainkan beberapa sayatan yang menyakitkan...
Itulah yang kupelajari saat ini...

Dan kita takkan pernah benar-benar menjadi 'sesuatu', sebelum kita merasakan cambukan, dan meneteskan air mata karena perihnya sayatan itu...
Dari situlah aku mulai belajar untuk mencintai setiap jejak yang ditinggalkan orang lain dalam hidupku... Karena apapun itu, semuanya akan mengajarkan kita cara untuk menjadi 'sesuatu' yang jauh lebih berarti dibanding sebelumnya...
Maka mulai hargailah hidupmu, kawan....semoga CINTA (ALLAH) kan selalu memberkahi dan meridhoi jalanmu...^___^

Jangan takut dan menyerah ketika seseorang berkata, "Kau takkan mampu menjadi yang kau inginkan. Harapanmu terlalu tinggi, kau kurang realistis!!" Meski saat mendengar kalimat itu hatimu sempat ingin menangis, dan otakmu memaksamu untuk berhenti melakukan sesuatu....tetaplah kau pada mimpi-mimpimu. Berhentilah sejenak jika kau memang benar-benar lelah. Tapi bukan menjadikan 'berhenti' itu menjadi sesuatu yang membuatmu terdiam untuk banyak waktu. Jadikanlah 'berhenti'mu itu sebagai sebuah perenungan...di mana kamu akan menyusun strategi baru yang tak perlu dimengerti orang lain. Cukup dirimu dan CINTA (ALLAH) saja yang tahu agar kau tak makin tersayat dan terkoyak dengan komentar baru mereka...

CINTA (ALLAH) akan selalu bersama mimpi-mimpimu....kau tahu kan, CINTA (ALLAH) tak pernah berdusta...dan bahkan telah dan selalu menjaga mimpi-mimpimu dalam tiap jeda yang kamu lalui..

إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِم

Kita tentu tak lupa tentang peringatan CINTA (ALLAH) dalam ayat tersebut bukan???? Huuufft...begitulah kawan...akan ada banyak aral saat kau mencoba untuk meraih bintang. Namun jangan pernah takut, karena kita tak pernah benar-benar sendirian!!^^

*meracau lagiiii* ♥ (✿◠ ‿ ◠)