Friday, October 12, 2012

untitled


Bila kutitipkan dukaku pada langit
Pastilah langit memanggil mendung
Bila kutitipkan resahku pada angin
Pastilah angin menyeru badai
Bila kutitipkan geramku pada laut
Pastilah laut menggiring gelombang
Bila kutitipkan dendamku pada gunung
Paslilah gunung meluapkan api. Tapi
Kan kusimpan sendiri mendung dukaku
Dalam langit dadaku
Kusimpan sendiri badai resahku
Dalam angin desahku
Kusimpan sendiri gelombang geramku
Dalam laut fahamku.
Ku simpan sendiri


:')


Hanya ingin menetralkan diri dari segala noda yang terjadi hari ini. Sentilan-sentilan ini melahirkan rasa ingin menekuk diri. Ingin menekuk diri. Sekali lagi, ingin menekuk diri. Membiarkan ego membungkam diri agar ia tersadar, bukankah kalimat itu yang pernah ia sampaikan?

Tapi, bukan sanjungan dari siapapun, melainkan ridhaMU, Yaa ALLAH.. Dalam waktu yang bersamaan, kerapkali aku berusaha memunculkan kata-kata yang mampu menetralisirkan perasaan yang berserakan ini. Menata kembali langkah-langkah yang sudah kutelusuri. Kontras rasanya jika aku harus berhenti hanya pergesekan seseorang.

Yaa ALLAH, kembalikan aku, genggamlah hati ini...
Dekaplah aku hingga menjumpaiMU kelak...

6 perkara..


Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam. bersabda:
Enam perkara menjadi terlantar di lingkungannya
Masjid di antara masyarakat yang tak mau jamaah di dalamnya
Mushaf di rumah orang yang tak mau membacanyaAl-Qur’an dalam hafalan orang yang durhaka
Istri salehat dalam naungan laki-laki aniaya
Suami saleh dalam buaian istri tuna susila
Dan ilmuwan di tengah masyarakat yang tak menghiraukannya

Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam. bersabda:
Enam orang akan kulaknati
Dilaknati Allah dan para Nabi
Pertama, orang yang memalsu Kitabullah
Kedua, orang yang mendustakan qadar Allah
Ketiga, orang yang mendewakan harta berlimpah
Keempat, orang yang menghalalkan larangan Allah
Kelima, orang yang menghalalkan darahn keluarga Rasulullah
Dan keenam, orang yang ingkar akan Sunnah


Abu Bakar Radhiallahu 'Anhu. berkata:
Di depanmu ada setan yang mengajakmu tanggalkan iman
jika seseorang di antaramu mengikuti ajakannya maka sirnalah agamanya
Di samping kananmu ada nafsu yang menggiringmu pada perilaku tabu
jika seseorang di antaramu mengikuti arusnya maka sirnalah cahaya kemanusiaannya
Di samping kirimu ada hawa yang membawamu pada perilaku nista
jika seseorang di antaramu menurutinya maka sirnalah akal pikirannya
Di belakangmu ada dunia yang merayumu untuk menguasainya
jika seseorang di antaramu tergiur rayuannya maka sirnalah bagian akhiratnya
Dalam dirimu ada anggota tubuh yang menyeretmu untuk berbuat dosa
jika seseorang di antaramu terbawa alirannya maka sirnalah bagian surganya
Dan di atasmu ada Sang Mahakuasa Yang menuntunmu pada maaf dan surga
jika seseorang di antaramu mematuhinya maka sirnalah dosa kejahatannya

Umar Radhiallahu 'Anhu. berkata:
Enam keistimewaan
Allah rahasiakan dalam enam keadaan
rahasiakan ridha di dalam taat
rahasiakan murka di dalam maksiat
rahasiakan lailatul qadar di bulan Ramadhan
rahasiakan kematian dibalik kehidupan
rahasiakan para wali di antara manusia dan rahasiakan shalat utama di antara shalat lima

Utsman Radhiallahu 'Anhu. berkata:
Setiap insan beriman,tentu dihinggapi enam ketakutan
takut kepada Allah untuk mencabut imannya
takut kepada malaikat untuk mencatat amal buruknya
takut kepada setan untuk meleburkan amal salehnya
takut kepada pencabut nyawa untuk merenggut nyawanya
takut kepada dunia untuk merasa tentram di dalamnya
takut kepada keluarga untuk rnenyibukkan nya hingga lupa pada Tuhannya

Ali Radhiallahu 'Anhu. berkata:
Jika seseorang mampu menjaga enam perilaku niscaya dirindukan surga dan dijauhi neraka
pertama, iman kepada Allah dan menaati-Nya
kedua, tahu akan setan dan menentangnya
ketiga, mengerti akhirat dan bersiap diri menujunya
keempat, mengenal dunia dan rela meninggalkannya
kelima, mengetahui kebenaran dan mengikutinya

keenam, memahami kebatilan dan menjauhinya Ali Radhiallahu 'Anhu berkata:
Nikmat sejati adalah beragama islam,
berkitab al-Qur‘an
ber-Rasul Muhammad,
hidup berkecukupan
tertutupi aibnya dan
tidak bergantung pada sesama insan

Yahya bin Mu’adz ar-Razy mengatakan:
Paham itu kuncinya ilmu,
ilmu itu pertanda amal
akal itu pengikat darma,
hawa itu perahu dosa
harta itu sangkurnya orang yang besar kepala dan
dunia itu sebagai pasarnya alam baka

Bazru Jumhur mengatakan:
Enam perkara samai isi dunia
makanan lezat, anak yang taat, istri setia,
fatwa yang berguna, akal sempurna dan kesehatan raga

Hasan al-Bashri mengatakan:
Andai tak ada Wali Abdal, pengganti niscaya runtuh cakrawala dunia
Andai tak ada insan berbakti niscaya binasa orang-orang durhaka
Andai tak ada para ulama niscaya manusia layaknya hewan piara
Andai tak ada para Raja niscaya manusia saling memangsa sesama
Andai tak ada orang tua lanjut usia niscaya bumi telah binasa
Dan andai tak ada tiupan angin niscaya alam menjadi busuk menjijikkan

Seorang filosuf mengatakan:
Apabila seorang hamba tidak takut pada Allah takkan selamat lidahnya dari cela
Apabila seorang hamba tidak takut bertemu Allah takkan selamat hatinya dari riba
Apabila seorang insan mengharap pada sesama niscaya sifat tamak akan menghinggapinya
Apabila seorang insan tidak menjaga amal salehnya niscaya ia dihinggapi sifat riya
Apabila seorang manusia enggan berdoa agar dijaga hatinya niscaya hasud akan melingkupinya
Dan apabila manusia enggan belajar darma niscaya ujub tak dapat dihindarinya

Hasan al-Bashri mengatakan:
Enam perilaku membuat hati membatu
berbuat dosa di saat mengharap rela
memperoleh ilmu tanpa mengamalkannya
berbuat bakti dengan setengah hati
meraih rezeki dan tak pernah mensyukuri
tak menerima pada kodrat Ilahi dan sering menguburkan orang mati,
namun tak pernah belajar mawas diri

Hasan al-Bashri mengatakan:
Jika manusia memilih dunia dan lupa alam baka niscaya Allah akan menyiksanya dengan enam pidana.
tiga di dunia, yakni angan-angan tiada henti, keserakahan yang tiada pernah terpenuhi,
dan tak pernah merasakan manisnya berbakti.
tiga di akhirat, adalah kebingungan di hari Kiamat,
hisab amal yang berat,
dan sesali diri setiap saat

Ahmad bin Qais mengatakan:
Tak ada penolakan atas kodrat Ilahi
Tak ada ketentraman bagi pendengki
Tak ada kehormatan bagi pendusta
Tak ada tipu daya bagi penderma
Tak ada tepat janji bagi penguasa
dan tak ada kedaulatan bagi pemimpin durjana

Seorang filosuf ditanya:
Apakah seorang hamba mengerti,adakah tobatnya diterima ataukah tidak?
Ia menjawab: Tidak pasti
Namun. setidaknya ada tanda-tanda jika tobatnya diterima
Pertama, jika seseorang melihat dirinya tak mampu terlepas dari dosa
Kedua, jika seseorang merasa merana dan kegelisahan selalu menghantuinya
Ketiga, jika seseorang dekat dengan orang-orang bijaksana dan jauh dari para durjana
Keempat, jika seseorang telah merasa cukup baginya sedikit harta
Kelirna, jika seseorang merasa kewajiban Tuhan inenyibukkannya sementara anugerah Tuhan tak dihiraukannya
Keenam, jika seseorang hati-hati dalam berpikir dan berkata, serta tiada henti introspeksi dirinya

Yahya bin Mu’adz mengatakan:
Enam penipuan seorang hamba yang takkan termaafkan oleh Tuhannya
Ketika ia memohon ampun atas dosanya tanpa menyesali dan tanpa upaya untuk berhenti
Ketika ia mendambakan dirinya dekat dengan Ilahi namun tanpa pernah mau berbakti
Ketika ia berharap memanen surga sementara ia menebar benih neraka
Ketika ia inginkan taman nirwana sambil tetap saja berlaku durjana
Ketika ia dambakan pahala, sambil enggan jalani darma
dan ketika ia harapkan anugerah, namun tak tahu arah ibadah

Ahnaf bin Qais pernah ditanya:
Kebaikan apa yang diberikan Allah pada seorang hamba?
Ia menjawab: ialah akal yang sempurna
Kalau tidak diberi akal yang sempurna? la diberi perilaku yang mulia
Kalau tidak diberi akal dan perilaku mulia? Ia diberi sahabat karib yang setia
Kalau tidak diberi sahabat karib yang setia? Ia diberi hati yang sabar
Kalau tidak diberi hati yang sabar? Ia diberi sikap diam yang penuh makna
Kalau tidak diberikannya? Terakhir kali Ahnaf menjawab:
Datangnya ajal lebih baik baginya



Wednesday, October 10, 2012

untitled

Andai bisa menguap, ingin aku membersamai asap
Jika mampu menyublin, sungguh pintaku bersama embun
Ah, kalau saja aku bisa menghilang,
kumau dunia tak lagi memelukku

Biarkan aku menjadi maya,
biarkan aku menjadi penumbra,
biarkan aku berlalu dengan sejumput remah puing hati
Keping mozaik itu takkan terbangun,
takkan pernah!

Sebab aku, pada sesuatu yang tak bernama

Tuesday, October 9, 2012

mangkuk, madu, sehelai rambut..



Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam, dengan sahabat-sahabat beliau Abu Bakar Radhiallahu 'Anhu, Umar Radhiallahu 'Anhu., Utsman Radhiallahu 'Anhu, dan 'Ali Radhiallahu 'Anhu, bertamu ke rumah Ali Radhiallahu 'Anhu. Di rumah Ali Radhiallahu 'Anhu istrinya Sayidatina Fathimah Radhiallahu 'Anha. putri Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam menghidangkan untuk mereka madu yang diletakkan di dalam sebuah mangkuk yang cantik, dan ketika semangkuk madu itu dihidangkan sehelai rambut terikut di dalam mangkuk itu. Baginda Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam kemudian meminta kesemua sahabatnya untuk membuat suatu perbandingan terhadap ketiga benda tersebut (Mangkuk yang cantik, madu, dan sehelai rambut).

Abu bakar Radhiallahu 'Anhu. berkata, "iman itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang beriman itu lebih manis dari madu, dan mempertahankan iman itu lebih susah dari meniti sehelai rambut".

Umar Radhiallahu 'Anhu berkata, "kerajaan itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, seorang raja itu lebih manis dari madu, dan memerintah dengan adil itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Utsman Radhiallahu 'Anhu berkata, "ilmu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, orang yang menuntut ilmu itu lebih manis dari madu, dan ber'amal dengan ilmu yang dimiliki itu lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

'Ali Radhiallahu 'Anhu berkata, "tamu itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, menjamu tamu itu lebih manis dari madu, dan membuat tamu senang sampai kembali pulang ke rumanya adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Fatimah Radhiallahu 'Anhaberkata, "seorang wanita itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, wanita yang ber-purdah/berniqob itu lebih manis dari madu, dan mendapatkan seorang wanita yang tak pernah dilihat orang lain kecuali muhrimnya lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wa Sallam berkata, "seorang yang mendapat taufiq untuk ber'amal adalah lebih cantik dari mangkuk yang cantik ini, ber'amal dengan 'amal yang baik itu lebih manis dari madu, dan berbuat 'amal dengan ikhlas adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Malaikat Jibril 'Alaihis Sallam berkata, "menegakkan pilar-pilar agama itu lebih cantik dari sebuah mangkuk yang cantik, menyerahkan diri; harta; dan waktu untuk usaha agama lebih manis dari madu, dan mempertahankan usaha agama sampai akhir hayat lebih sulit dari meniti sehelai rambut".

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, " Syurga-Ku itu lebih cantik dari mangkuk yang cantik itu, nikmat sorga-Ku itu lebih manis dari madu, dan jalan menuju sorga-Ku adalah lebih sulit dari meniti sehelai rambut".





Sunday, October 7, 2012

untitled




apapun ada mu, apapun ada ku, adalah sunyi
apakah ia hujan , ia angin, ia pagi, ia senja
apapun menjelma seketika
sekelebat terhempas dahan kering
menanggalkan daun-daun semusim
yang kutitipkan pada angin
dan hilang tak lagi berserakan bersama sobekan puisi tentang mu



aku hanya mengakhiri resah
yang kian terlelap membunuh waktu
yang lama menjadi hujan sengaja menipu awan
hanyalah jejak keraguan sebelum tanah menjadi basah

kerap kita hanya menduga dengan memadamkan kata
entah bahasa apa yang digunakan lentera
hingga bisa membinarkan masa berdamai dengan sepi
untuk kita kembali belajar membaca
perlahan mengeja peristiwa melafalkan rasa
dan mampu menempatkan titik koma serta tanda tanya

Saturday, October 6, 2012

bertanya arti cinta...



Aku bertanya pada alam semesta tentang arti “CINTA”, 
lalu satu demi satu mereka menjawab…

Bumi menjawab:
“CINTA adalah hamparan tempat tumbuh segala bahagia dan harapan akan itu. Ia memang diinjak dan dihinakan, tetapi ia tak peduli. Pikir Cinta hanya memberi, dan itu sajalah inginnya.”

Air menjawab:
“CINTA adalah hujan yang menumbuhkan benih-benih rasa kesukaan, kerelaan akan keterikatan, kerinduan dan kesenduan, atau samudera kasih yang luas sebagai naungan segala perasaan

 Api menjawab:
“CINTA adalah panas yang membakar segala, ia memusnahkan untuk dapat hidup dan menyala. Demi merasakannya, makhluk rela terbakar dalam amarah dan kedurhakaan.”

Angin menjawab:
“CINTA adalah hembusan yang menebar sayang tanpa tahu siapa tujuannya. Orang bilang ia buta, sebab itu inginnya. Ia tak terlihat, tapi tanpanya segala raga akan hampa.”

Langit menjawab:
“CINTA adalah luasan tanpa batas. Luasnya tiada makhluk yang tahu. Kecuali bahwa cinta itu bahagia yang biru, atau derita kelam yang kelabu


Matahari menjawab:
“CINTA adalah hidup untuk memberi energi kehidupan dan cahaya harapan. Ia tak akan lelah memberi sampai ia padam dan mati.”

Pohon menjawab:
“CINTA adalah akar yang menopang segalanya. Ia tulus hingga tak perlu terlihat dan dikenal. Tapi ia terus memberi agar batang bahagia tetap kokoh abadi, berbuah dan berbunga indah.”

Gunung menjawab:
“CINTA adalah rasa yang menjulang tinggi. Rasa itu demikian tenang dan menyejukkan. Namun saat gundah, Ia akan meleburkan sekelilingnya dengan lautan lava cemburu yang membara.”
Lalu, Aku bertanya pada CINTA:

“Wahai CINTA, apakah sebenarnya arti dirimu??”

CINTA menjawab:

“CINTA adalah engkau patuh terhadap-NYA, meski kau tak melihat-NYA. Engkau tidak mencium-NYA atau meraba-Nya, tapi engkau patuh karena engkau merasa akan hadir-NYA. Sebab CINTA bukan indera, tapi adalah rasa.”

“CINTA adalah engkau takut akan amarah-NYA, dan takut jika IA meninggalkanmu. Takut jika IA tak menyukaimu lagi. Lalu engkau mencari-cari alasan untuk selalu dekat denganNYA, bahkan jika engkau harus menderita, atau yang lebih mengerikan dari itu.”

“CINTA adalah engkau menyimpan segala harapan pada-NYA dan tidak pada yang lain. Engkau tidak mendua dalam harapan, dan demikian selamanya. Cinta adalah engkau setia menjadi budak-NYA, yang engkau hidup untuk-NYA dan mati untuk kesukaan-NYA akan dirimu, hidup dan mati untuk DIA. Engkau berusaha sekerasnya agar engkau diakui, hanya sebagai budak, sebagai hamba.”

“Diatas segalanya, CINTA adalah engkau merasa kasih sayang yang tunggal yang tidak engkau berikan pada yang lain, selain pada-NYA. Engkau rindu akan hadir-NYA dan melihat-NYA. Engkau suka apa yang IA sukai dan benci apa yang IA benci, engkau merasakan segala ada pada-NYA dan segala atas nama-NYA.”

Aku lantas bertanya pada CINTA:

“Bisakah aku merasakannya?”

Sambil berlalu CINTA menjawab:

“Selama engkau mengetahui hakikat penciptaanmu dan bersyukur dengan apa yang DIA beri, maka itu semua akan kau rasakan, percayalah padaku tambahnya….”

Aku pun Berteriak, “Wahai KAU SANG MAHA PECINTA terimalah cintaku yang sederhana ini, izinkanlah aku merasakan cintaMU yang Maha Indah…”