Wednesday, September 26, 2012

STASIUN KEHIDUPAN



Kehidupan. Sebuah kata sederhana yang amat sarat makna. Seperti apakah kita menamakan sebuah hidup itu? Seperti apa warnanya hidup itu? Hijaukah? Jingga kah? Atau violet? Apapun itu, yang jelas setiap kita punya lukisan kata sendiri untuk menamainya.

Hidup. Mari sejenak menelik kembali masa2 dari segenap cuplikan episode kehidupan kita. Ya, kehidupan kita sendiri. Bukan orang-orang disekeliling kita. Seberapa panjangkah jalannnya? Seberapa beragamkah warnanya? Barangkali kita telah melukis sejuta warna, bukan?

Saudaraku,
Dahulu kita adalah calon masinis atas kereta yang saat ini tengah kita kendalikan saat ini. Barangkali, keterbatasan dan kedhaifanlah yang membuat kita tak tahu bahwa ternyata kita dahulu berkompetisi. Ya,
berkompetisi. Hanya untuk sebuah kereta kehidupan.

Saudaraku,
Barangkali kita juga lupa bahwa setelah salah satu dari sekian banyak pesaing-pesaing yang ikut berkompitisi, ada satu pemenangnya. Siapa? Yaitu kita sendiri! Ya, kita adalah pemenang kompetisi itu! Sejatinya sebagai pemenang, tentu ada banyak hal yang menjadi ’tuntutan’ untuk kita.

Sebelum kereta kita melaju, kita tentu telah membuat kontrak terlebih dahulu dengan Sang Pemilik Kereta, sang Penentu Nasib Kereta. Karena kita bukan pemilik penuh atas kereta itu. Kita hanya masinisnya. Kontrak itu adalah ketika kita bersaksi bahwasannya hanya Allah lah sembahan kita. (ingat janji kita kpd Allah telah dinyatankan-NYA dg terang di Al Qur’an)

Lalu, peluit pun dibunyikan. Pertanda kereta siap berangkat. Apakah itu sepuluh tahun yang lalu, dua puluh tahun yang lalu, tiga puluh, atau bahkan mungkin seratus tahun yang lalu kita mulai berangkat dari stasiun awal.

Saudaraku,...
Hari ini,.. kita adalah masinis kereta yg kita kendalikan ini. Akan kita bawa kemanakah kereta ini? Sedang diperjalannya begitu banyak potret yang kita temui. Lihatlah, jalan yang kita tempuh itu bukan hanya lurus saja, bukan hanya datar saja, dan tentu saja bukan hanya terang saja. Terkadang, ada tanjakan yang kita lalui, ada terowongan gelap yang membuat kita sulit meraba, ada cadas yang menghadang barangkali. Ah, itu adalah niscaya bukan? Sebab, kalau tidak dengan begitu, perjalanan ini tak pula indah.

Namun, kereta yang kita bawa ini telah ditentukan dimanakah stasiun terakhirnya? Akan seperti apa kita nantinya berhenti distasiun? Atau, apakah kita menjadi salah satu sejarah dimana kereta kita berujung di jurang terjal.

Ya, kitalah yang merancang akan bagaimana kita sampai distasiun nanti. Akan dengan mulus dan happy ending? Atau, dgn tabrakan atau Sad ending? Setidanyka, kita telah dimodali oleh rambu2 jauh sebelum keberangkatan kita dahulu. Rambu yg jika kita tak mematuhinya, akan menggelincirkan kereta kita ke jurang. Rambu yang jika kita patuhi, insyaALLAH akan mengantarkan kita ke stasiun dgn selamat.

Ya,... suatu saat, PASTI! Pasti kita akan menemui stasiun kita masing-masing. Stasiun yang akan menentukan nasib kita setelah itu. Sebab, ternyata, kereta yang kita tumpangi dan kita kendalikan ini hanya sepenggal perjalanan singkat. Kita hidup, ternyata bukan untuk perjalanan di kereta sesaat saja sampai kita menemukan stasiun. Tapi, ada tujuan kita setelah elewai stasiun itu bukan?ya, mulai dari sekarang, kitalah yang merancangnya!

wasiat Imam Al-Ghazali..


“Katakan pada para sahabatku, ketika mereka melihatku mati, Menangis untukku dan berduka bagiku
Janganlah mengira bahwa jasad yang kau lihat ini adalah aku

Dengan nama ALLAH, kukatakan padamu, ini bukanlah aku,
Aku adalah jiwa, sedangkan ini hanyalah seonggok daging
Ini hanyalah rumah dan pakaian ku sementara waktu.

Aku adalah harta karun, jimat yang tersembunyi,
Dibentuk oleh debu ,yang menjadi
singgasanaku,
Aku adalah mutiara, yang telah meninggalkan rumahnya,
Aku adalah burung, dan badan ini hanyalah sangkar ku
Dan kini aku lanjut terbang dan badan ini kutinggal sebagai kenangan

Puji Tuhan, yang telah membebaskan aku
Dan menyiapkan aku tempat di syurga tertinggi,
Hingga hari ini , aku sebelumnya mati, meskipun hidup diantara mu.

Kini aku hidup dalam kebenaran, dan pakaian kubur ku telah ditanggalkan.
Kini aku berbicara dengan para malaikat diatas,
Tanpa hijab, aku bertemu muka dengan Tuhanku.

Aku melihat Lauh Mahfuz, dan didalamnya ku membaca
Apa yang telah, sedang dan akan terjadi.
Biarlah rumahku runtuh, baringkan sangkarku di tanah,

Buanglah sang jimat, itu hanyalah sebuah kenang2an, tidak lebih
Sampingkan jubahku, itu hanyalah baju luar ku,
Letakkan semua itu dalam kubur, biarkanlah terlupakan
Aku telah melanjutkan perjalananku dan kalian semua tertinggal.

Rumah kalian bukanlah tempat ku lagi.
Janganlah berpikir bahwa mati adalah kematian, tapi itu adalah kehidupan,

Kehidupan yang melampaui semua mimpi kita disini,
Di kehidupan ini, kita diberikan tidur,

Kematian adalah tidur, tidur yang diperpanjang
Janganlah takut ketika mati itu mendekat,
Itu hanyalah keberangkatan menuju rumah yang terberkati ini

Ingatlah akan ampunan dan cinta Tuhanmu,
Bersyukurlah pada KaruniaNYA dan datanglah tanpa takut.

Aku yang sekarang ini, kau pun dapat menjadi
Karena aku tahu kau dan aku adalah sama
Jiwa-jiwa yang datang dari Tuhannya
Badan badan yang berasal sama
Baik atapun jahat, semua adalah milik kita
Aku sampaikan pada kalian sekarang pesan yang menggembirakan

Semoga kedamaian dan kegembiraan ALLAH menjadi milikmu selamanya...

*Imam Al-Ghazali*


Hadza sabily...!!



Huff….
Tiada kata lagi, tiada pilihan lagi, melainkan JALANI SEMUANYA! Jalani.., dan nikmati setiap jenak-jenaknya. Biarkan kehidupan itu berjalan mengikuti ritmenya, biarkan… Apapun itu, tetaplah arungi kehidupan ini. Tetaplah, hingga ke ujungnya, hingga ke akhirnya. Hingga pada stasiun terakhir yang telah ditetapkan-NYA..

Tinggal menguatkan diri dan meneguhkan azzam. Menatap kehidupan dari “sisi putih”nya.

Biarkan… Biarkan masa lalu tetap menjadi milik masa lalu. Masa yang takkan pernah dapat dijemput. Maka, aku takkan melengok ke belakang lagi. Apapun itu, seburuk apapun, jadikan saja plajaran. Bahwa hidup ini adalah pilihan. Dan stiap pilihan adalah konsekuensi. Setiap konsekuensi, adalah sesuatu yang mesti dijalani, sebagai implikasi dari sebuah pilihan itu. Sekali lagi, pilihan! Pilihan untuk memilih. Apapun itu. Dan apapun pilihannya, semoga kita bertekad menjadi yang terbaik pada pilihan itu.

Masa lalu.
Hmm…, sejenak aku pernah terpaku. Padahal, sungguh, kurasa itu adalah hal terbodoh yang pernah kulakukan. Pada masa yang tak satu kendaraan pun mampu mengantarkannya ke sana. Yah, sebab aku takkan pernah kembali padanya lagi, secanggih apapun dunia nano particle saat ini.

Baiklah, barangkali ini adalah satu titik tolak bagiku. InsyaALLAH.. Aku takkan “kembali” lagi. Tak akan. Kecuali untuk selembar memory masa-masa indah ketika aku diperkenalkan dengan indahnya jalan ini. Ketika aku dibukakan dari kebutaan, dari kejahiliyahan. Masa terindah bagiku. Untuk masa ini, insyaALLAH, akan kubawa kemanapun kenangannya, agar mengingatkanku bahwa dahulu aku pernah begini, dan semoga menjadikan motivasi bagiku, bahwa aku memang harus lebih baik lagi dari masa itu. Aku harus perbaiki lagi. Harus perbaiki lagi. Karena,…inilah JALANKU! Hadza sabiliy. Inilah jalanku!


Jejak.
Yah, jejak. Biarkan saja ia menjadi jejak, kecuali untuk selembar memory itu. Memory yang mengantarkanku pada “jalan ini, jalan yang teramat indah ini”.Segalanya terkecuali untuk selembar memory bersejarah itu, ingin kusimpan dalam ‘peti’. Lalu, kupaku seerat-eratnya hingga tak satupun dapat menembusnya. Lalu, perlahan…, kuhanyutkan di sungai.

Saatnya menatap lurus kedepan,
yakinlah bahwa skenario-NYA adalah skenario terbaik!
karena DIA adalah sutradara terbaik!!

Hanya satu tujuan, yaah..hanya satu saja...
Maka, tetaplah pada tujuan itu...
Tetaplah...

Fastabiqul Khairat!

“Dakwah adalah cinta...
 cinta yang akan meminta semua dari dirimu, sampai pikiranmu, perhatianmu. Berjalan, duduk dan tidurmu, bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang da’wah. Lagi-lagi memang seperti itu da’wah, menyedot saripati energimu sampai tulang belulang.”

Sampai di sini, aku tercenung. Sungguh…
Apa yang kuberikan, bahkan belum apa-apa. Jangankan, saripati hingga belulang!
Aku belumlah apa-apa, bahkan tak cukup dengan kata ‘sedikit’ tentang apa yang telah kuberikan!

Ah, Barang kali, ini sebuah refleksi saja…
Sebagai sekelumit muhasabah…untukku, untukmu dan untuk kita semua… 

beningnya rindu itu... :'(





Langit Madinah kala itu mendung. Bukan mendung biasa, tetapi mendung yang kental dengan kesuraman dan kesedihan. Seluruh manusia bersedih, burung-burung enggan berkicau, daun dan mayang kurma enggan melambai, angin enggan berhembus, bahkan matahari enggan nampak. Seakan-akan seluruh alam menangis, kehilangan sosok manusia yang diutus sebagai rahmat sekalian alam. Di salah satu sudut Masjid Nabawi, sesosok pria yang legam kulitnya menangis tanpa bisa menahan tangisnya.
-----
Waktu shalat telah tiba. Bilal bin Rabah, pria legam itu, beranjak menunaikan tugasnya yang biasa: mengumandangkan adzan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Suara beningnya yang indah nan lantang terdengar di seantero Madinah. Penduduk Madinah beranjak menuju masjid. Masih dalam kesedihan, sadar bahwa pria yang selama ini mengimami mereka tak akan pernah muncul lagi dari biliknya di sisi masjid.

Asyhadu anla ilaha illallah, Asyhadu anla ilaha ilallah.

Suara bening itu kini bergetar. Penduduk Madinah bertanya-tanya, ada apa gerangan. Jamaah yang sudah berkumpul di masjid melihat tangan pria legam itu bergetar tak beraturan.

Asy...hadu.. an..na.. M..Mu..mu..hammmad. ..

Suara bening itu tak lagi terdengar jelas. Kini tak hanya tangan Bilal yang bergetar hebat, seluruh tubuhnya gemetar tak beraturan, seakan-akan ia tak sanggup berdiri dan bisa roboh kapanpun juga. Wajahnya sembab. Air matanya mengalir deras, tidak terkontrol. Air matanya membasahi seluruh kelopak, pipi, dagu, hingga jenggot. Tanah tempat ia berdiri kini dipenuhi oleh bercak-bercak bekas air matanya yang jatuh ke bumi. Seperti tanah yang habis di siram rintik-rintik air hujan.

Ia mencoba mengulang kalimat adzannya yang terputus. Salah satu kalimat dari dua kalimat syahadat. Kalimat persaksian bahwa Muhammad bin Abdullah adalah Rasul ALLAH.

Asy...ha..du. .annna...

Kali ini ia tak bisa meneruskan lebih jauh. Tubuhnya mulai limbung. Sahabat yang tanggap menghampirinya, memeluknya dan meneruskan adzan yang terpotong.



Saat itu tak hanya Bilal yang menangis, tapi seluruh jamaah yang berkumpul di Masjid Nabawi, bahkan yang tidak berada di masjid ikut menangis. Mereka semua merasakan kepedihan ditinggal Kekasih ALLAH untuk selama-lamanya. Semua menangis, tapi tidak seperti Bilal. Tangis Bilal lebih deras dari semua penduduk Madinah. Tak ada yang tahu persis kenapa Bilal seperti itu, tapi Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallahu 'anhu. tahu. Ia pun membebastugaskan Bilal dari tugas mengumandangkan adzan.

Saat mengumandangkan adzan, tiba-tiba kenangannya bersama Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wasallam berkelabat tanpa ia bisa membendungnya. Ia teringat bagaimana Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wasallam memuliakannya di saat ia selalu terhina, hanya karena ia budak dari Afrika. Ia teringat bagaimana Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wasallam menjodohkannya. Saat itu Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wasallam meyakinkan keluarga mempelai wanita dengan berkata, ”Bilal adalah pasangan dari surga, nikahkanlah saudari perempuanmu dengannya." Pria legam itu terenyuh mendengar sanjungan Sang Nabi akan dirinya, seorang pria berkulit hitam, tidak tampan, dan mantan budak.

Kenangan-kenangan akan sikap Rasul yang begitu lembut pada dirinya berkejar-kejaran saat ia mengumandangkan adzan. Ingatan akan sabda Rasul, ”Bilal, istirahatkanlah kami dengan shalat.” lalu ia pun beranjak adzan, muncul begitu saja tanpa ia bisa dibendung. Kini tak ada lagi suara lembut yang meminta istirahat dengan shalat.

Bilal pun teringat bahwa ia biasanya pergi menuju bilik Nabi Shallallahu 'Alayhi Wasallam yang berdampingan dengan Masjid Nabawi setiap mendekati waktu shalat. Di depan pintu bilik Rasul, Bilal berkata, ”Saatnya untuk shalat, saatnya untuk meraih kemenangan. Wahai Rasulullah, saatnya untuk shalat.” Kini tak ada lagi pria mulia di balik bilik itu yang akan keluar dengan wajah yang ramah dan penuh rasa terima kasih karena sudah diingatkan akan waktu shalat.

Bilal teringat, saat shalat ’Ied dan shalat Istisqa’ ia selalu berjalan di depan Rasulullah dengan tombak di tangan menuju tempat diselenggarakan shalat. Salah satu dari tiga tombak pemberian Raja Habasyah kepada Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wasallam. Satu diberikan Rasul kepada Umar bin Khattab radhiallahu 'anhu., satu untuk dirinya sendiri, dan satu ia berikan kepada Bilal. Kini hanya tombak itu saja yang masih ada, tanpa diiringi pria mulia yang memberikannya tombak tersebut. Hati Bilal makin perih.

Seluruh kenangan itu bertumpuk-tumpuk, membuncah bercampur dengan rasa rindu dan cinta yang sangat pada diri Bilal. Bilal sudah tidak tahan lagi. Ia tidak sanggup lagi untuk mengumandangkan adzan.
Abu Bakar tahu akan perasaan Bilal. Saat Bilal meminta izin untuk tidak mengumandankan adzan lagi, beliau mengizinkannya. Saat Bilal meminta izin untuk meninggalkan Madinah, Abu Bakar kembali mengizinkan. Bagi Bilal, setiap sudut kota Madinah akan selalu membangkitkan kenangan akan Rasul, dan itu akan semakin membuat dirinya merana karena rindu. Ia memutuskan meninggalkan kota itu. Ia pergi ke Damaskus bergabung dengan mujahidin di sana. Madinah semakin berduka. Setelah ditinggal al-Musthafa, kini mereka ditinggal pria legam mantan budak tetapi memiliki hati secemerlang cermin.
----
Jazirah Arab kembali berduka. Kini sahabat terdekat Muhammad Shallallahu 'Alayhi Wasallam, khalifah pertama, menyusulnya ke pangkuan Ilahi. Pria yang bergelar Al-Furqan menjadi penggantinya. Umat Muslim menaruh harapan yang besar kepadanya.

Umar bin Khattab radhiallahu'anhu berangkat ke Damaskus, Syria. Tujuannya hanya satu, menemui Bilal dan membujuknya untuk mengumandangkan adzan kembali. Setelah dua tahun yang melelahkan; berperang melawan pembangkang zakat, berperang dengan mereka yang mengaku Nabi, dan berupaya menjaga keutuhan umat; Umar berupaya menyatukan umat dan menyemangati mereka yang mulai lelah akan pertikaian. Umar berupaya mengumpulkan semua muslim ke masjid untuk bersama-sama merengkuh kekuatan dari Yang Maha Kuat. Sekaligus kembali menguatkan cinta mereka kepada Rasul-NYA, Umar membujuk Bilal untuk kembali mengumandangkan adzan.

Bilal menolak, tetapi bukan Umar namanya jika khalifah kedua tersebut mudah menyerah. Ia kembali membujuk dan membujuk. ”Hanya sekali”, bujuk Umar. ”Ini semua untuk umat. Umat yang dicintai Muhammad, umat yang dipanggil Muhammad saat sakaratul mautnya. Begitu besar cintamu kepada Muhammad, maka tidakkah engkau cinta pada umat yang dicintai Muhammad?”
Bilal tersentuh. Ia menyetujui untuk kembali mengumandangkan adzan. Hanya sekali, saat waktu Subuh..

Hari saat Bilal akan mengumandangkan adzan pun tiba. Berita tersebut sudah tersiar ke seantero negeri. Ratusan hingga ribuan kaum muslimin memadati masjid demi mendengar kembali suara bening yang legendaris itu.

Allahu Akbar, Allahu Akbar
Asyhadu anla ilaha illallah, Asyhadu anla ilaha illallah
Asyhadu anna Muhammadarrasulullah

Sampai di sini Bilal berhasil menguatkan dirinya. Kumandang adzan kali itu beresonansi dengan kerinduan Bilal akan Sang Rasul, menghasilkan senandung yang indah lebih indah dari karya maestro komposer ternama masa modern mana pun jua. Kumandang adzan itu begitu menyentuh hati, merasuk ke dalam jiwa, dan membetot urat kerinduan akan Sang Rasul. Seluruh yang hadir dan mendengarnya menangis secara spontan.

Asyhadu anna Muhammadarrasulullah

Kini getaran resonansinya semakin kuat. Menghanyutkan Bilal dan para jamaah di kolam rindu yang tak berujung. Tangis rindu semakin menjadi-jadi. Bumi Arab kala itu kembali basah akan air mata.

Hayya ’alash-shalah, hayya ’alash-shalah

Tak ada yang tak mendengar seruan itu kecuali ia berangkat menuju masjid.

Hayya ‘alal-falah, hayya ‘alal-falah

Seruan akan kebangkitan dan harapan berkumandang. Optimisme dan harapan kaum muslimin meningkat dan membuncah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar

Allah-lah yang Maha Besar, Maha Perkasa dan Maha Berkehendak. Masihkah kau takut kepada selain-Nya? Masihkah kau berani menenetang perintah-Nya?

La ilaha illallah

Tiada tuhan selain ALLAH. Jika engkau menuhankan Muhammad, ketahuilah bahwa ia telah wafat. ALLAH Maha Hidup dan tak akan pernah mati.
----
Tahun 20 Hijriah. Bilal terbaring lemah di tempat tidurnya. Usianya saat itu 70 tahun. Sang istri di sampingnya tak bisa menahan kesedihannya. Ia menangis, menangis dan menangis. Sadar bahwa sang suami tercinta akan segera menemui Rabbnya.
”Jangan menangis,” katanya kepada istri. ”Sebentar lagi aku akan menemui Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wasallam dan sahabat-sahabatku yang lain. Jika ALLAH Subhanahu Wa Ta'ala mengizinkan, aku akan bertemu kembali dengan mereka esok hari.”

Esoknya ia benar-benar sudah dipanggil ke hadapan Rabbnya. Pria yang suara langkah terompahnya terdengar sampai surga saat ia masih hidup, berada dalam kebahagiaan yang sangat. Ia bisa kembali bertemu dengan sosok yang selama ini ia rindukan. Ia bisa kembali menemani Rasulullah, seperti sebelumnya saat masih di dunia.

yang gugur...



Aku semakin sadar, bahwa setiap catatan yang terlahir dari jiwa, pun akan sampai ke jiwa… apapun warna emosinya. Karena ALLAH tidak hanya ciptakan manusia dengan segenap pikir yang bersumber dari otak semata, tapi jua rasa yang bersumber dari hati dengan segenap kisi yang ada di dalamnya. 

Pada jiwa-jiwa itu ada ghiroh dan gelora. Berpadu dengan daya pikir yang luar biasa! Jadilah ia, generasi-generasi peradaban baru! Generasi-generasi yang menyambut tantangan dengan tangan terbuka lebar!
Inilah kami!
Inilah kami!
Inilah kami!
Bagian dari kebangkitan itu!
Arruhul jadiiid…fii jasaadil ummaah…

Mengukir tinta-tinta sejarah dengan gerak mereka. Dengan kepalan tangan mereka.
Dengan gelora semangat mereka. Mengobarkan panji yang patut dan pantas untuk diperjuangkan! Ruh-ruh mereka berkumpul! Bersatu! Membentuk kekuatan adidaya yang membuat musuh-musuh mereka gentar! Bahkan, sebelum mereka turun ke medan juang itu sekali pun!

Tapi, seleksi tetaplah seleksi…
Memang sudah menjadi fitrahnya…
Yang jatuh…tetap akan jatuh…
Yang tersisa…adalah yang memiliki kekuatan luar biasa!
-tanpa harus membenarkan teori Darwin-, seleksi alam itu memang terjadi. Tapi, selalu saja ada regenerasi. Seperti tumbuhnya dedaunan setelah sebagiannya gugur. Bahkan jauh lebih baik dari dedaunan gugur itu! Tapi, siapapun itu, maka kita berharap, BUKAN KITA lah yang menjadi dedaunan yang gugur! Ia hanya boleh gugur pada tempat terindah, pada keadaan yang DIA ridha. Bukan gugur karena kecewa, sakit hati ataupun lelah! Tidak! Hanya boleh gugur karena telah sampai ujung perjuangannya. Gugur yang akan menyejarah! Yang tak hanya habis pada zaman itu saja melainkan abadi dalam catatan sejarah!

VMJ...pink viruses



Berikut ini, bukan tulisan Na loh. Hee... Hasil selancar niiih… Kebetulan terdampar di 'pulau' ini. Yaah, akhirnya ' Na bawa' pulang...
Lucuuu banget....sekaligus menggelitik, dan mengena!
Yo wis, selamat membaca sahajaa...

*****************************************************************

  
Akhi.....
Kemarin, Aku jatuh cinta padamu...
Sebuah rasa yang tak seharusnya singgah di hati ini. Ku biarkan bersemayam dan terus bersemi di sela-sela percakapan kita kala itu. Aku mungkin tak mengenalmu, kecuali di sini, di dunia maya ini. Tapi, sejuknya tuturmu dalam membahas setiap kemelut masalahku, mendekatkan jarak yang tak tersentuh itu di bilik hati.

Akhi,
Segalanya dimulai dari sini. Awalnya padamu, hanya rasa kagum saja yang ku beri. Kagum pada pemikiran-pemikiran mu yang cemerlang, kagum pada kesholehan yang kau tampilkan di ruang mayamu, kagum pada kata-kata penuh hikmah yang kau coret di sela-sela catatanmu. Tak lebih.
Lalu...
Kekaguman itu membuahkan rasa penasaran, betapa aku ingin mengenal pribadimu. Dekat.. dan lebih dekat lagi. Tapi, sebagai seorang akhwat, aku terlalu malu untuk mulai sekedar menyapamu terlebih dahulu (takut engkau menganggapku akhwat centil), berharap engkau menghampiri akupun tak lebih hanya sebuah mimpi (toh, aku tak begitu penting bagimu, bahkan engkau tak mengenalku walau secuil pun).

Hari-hari ku lalui sembari memikirkan cara untuk bisa memulai perkenalan denganmu. Aha!!! Aku tau!!! Kenapa aku tak memulainya dengan pura-pura bertanya masalah seputar fikih, politik atau bertanya apa sajalah. Aku yakin, engkau pasti akan membantu menjawabnya sebisamu. Nanti, perkenalan yang kuinginkan bisa dirajut dari sini.




Ekspedisi pun dimulai. Dugaan ku benar. Segala tanya ku kau jawab dengan sangat memuaskan. Atau bila ragu, kau janjikan menjawabnya di lain hari. Aku senang. sangat – sangat senang. Sebenarnya kau tak perlu menjelaskan lebih banyak lagi. Toh, terkadang aku sudah tau jawabannya. bahkan lebih tau banyak darimu. Di google bisa ku temukan beragam jawaban dari tanya yang ku lontarkan padamu. Dunia maya mempermudah segalanya.

Detik waktu berlalu. Atas kecerewetanku yang tak henti-hentinya mengejarmu dengan beragam pertanyaan, membuat Kita semakin akrab, lebih akrab dari yang ku duga. Selanjutnya aku tak hanya sering bertanya padamu, bahkan mulai berani menceritakan beragam masalah pribadi yang ku hadapi padamu (curhat gettoh). Engkau tak pernah menolak, bahkan kau tenangkan segala pikiranku yang kusut akibat kemelut masalah yang datang di segenap aktivitasku. Solusi yang berisi Kata-kata menyejukkan dan bijaksana itu menghadirkan rintik-rintik rasa yang entah, rintik-rintik rasa yang menggetarkan perasaan, menghadirkan gamang ketika percakapan-percakap an yang kita lalui sore itu harus berakhir ketika adzan maghrib memanggil. Huuuffttt...
Suatu ketika, kesibukan aktivitas yang menguras tenaga membuat ku tak sempat menyinggahi dunia maya hingga hitungan minggu. Ada rindu tak menentu (andai kau tau... bahkan ketika duduk, berdiri, berjalan, makan, bahkan mimpi-mimpiku semua berisi tentang kamu) menggodaku untuk kembali menapaki hari-hari penuh tawa bersamamu (shaaaaaaaaaaaaaaaa aaaap).
kubuka inbox pada emailku...
Waw!! Ada pesan darimu...
"Ke mana aja ukh, lama gak keliatan. Sepi juga nih gak ada anti"
Pada sederet kalimat itu, Senyum ku mengembang. Pipi ini merona merah jambu. Bahagia menelusup pada rindu-rindu yang ku pendam. Aku yang mudah tersanjung, yang mudah melambung, seketika merasa, perasaan yang ku biarkan tumbuh ini tak bertepuk sebelah tangan. Segera saja aku meluncur pada sebuah ruang tempat kita biasa berbagi cerita. Tak sabar ingin segera menyapamu lagi. Sayang, kau yang biasanya selalu duduk manis did aftar bangku sahabat-sahabat mayaku, kali ini tak kutemukan bersemayam disana. Kecewa ? tentu saja. Sebab tujuanku gentayangan disini hanya untuk bertemu denganmu.
Satu detik, satu menit, satu jam, terus kutunggu.. nyatanya kau tak jua hadir hari itu. Gerimis membasahi hatiku atas segenap rindu yang tak terbayar kali ini. Biarlah... mungkin kau sibuk, toh besok-besok aku bisa mencarimu lagi di sini. Aaah... coba kalo aku punya no. hape mu..

Esoknya kucoba lagi menunggumu disini, kau masih tak datang. 2 hari, 3 hari, 1 minggu.. tetap tak ada kabar. Lantas, malu-malu kucoba tanyakan keberadaanmu pada sahabat ku yang juga mengenalmu disini. Ternyata ia juga mencarimu.. >_< cemburu terbit dihatiku. Kemudian, dari deret-deret kalimatnya mengalirlah beragam cerita tentangmu malam itu. Ternyata ia mengenalmu jauh melebihi aku. Ia tahu segalanya tentang kamu. Bahkan tentang apa saja yang kau suka dan tak kau suka. Lama aku tenggelam dalam gemuruh curhatnya. Ternyata ia menyukaimu. Bahkan bermimpi untuk membangun rumah tangga bersamamu. Aku kaget. Bahkan tak percaya. "tapi ukhti....." ucapnya kala itu ... ada akhwat selain aku yang juga menyukainya, dan berharap sama seperti yang kuharapkan dan ku impi-impikan. " Kali ini kagetku berlipat-lipat. Aku pikir hanya aku satu-satunya wanita yang rajin kau sapa, tempat kau berbagi cerita, akhwat yang tak henti kau semangati untuk terus menuntut ilmu dan mengaji. Aku pikir hanya aku satu-satunya yang menaruh harap kepadamu. T_T. Nyatanya.... huuuuuuuuuuufft. . kutarik nafas dalam-dalam atas sesak yang menggerogoti rongga dadaku. Mataku mulai panas. Aku tak ingin berlama-lama disini, membaca seribu sikapmu yang tak pernah kuketahui. Kututup percakapan itu, lantas pulang dengan seribu kecewa dan mata berkaca-kaca.

Berminggu-minggu tak kusinggahi dunia semu penuh hayalan palsu yang sempat melukai hatiku itu, sampai akhirnya. kuputuskan untuk menemuimu lagi. Kali ini tak ada lagi nuansa rindu, secuilpun tidak. Kontemplasi panjangku di sudut kamar beberapa malam yang lalu, telah menyadarkan aku pada perasaan yang seharusnya tak pernah kubiarkan bersemi sebelum waktunya itu. Sebuah perasaan yang Allah haramkan menggerogoti hatiku. Zina perasaan. Aku sadar, hubungan kita di dunia maya kala itu adalah sebuah kesalahan. Dan syaithon membumbuinya dalam kegilaanku padamu. Aku hanya ingin memperjelas sikap-sikapmu padaku dan pada akhwat-akhwat yang kau tumbuhkan bibit cinta di hatinya itu.

Alhamdulillah, ternyata kali ini kau tak ke mana-mana. Ragu-ragu aku menyapamu. Kau membalas hangat sapaku, seperti biasa. Menanyakan kabarku, aktivitasku, dakwahku, semua tentang aku. Kujawab seadanya. Aku tak ingin terjebak kedua kalinya pada rasa yang salah.
"Akhi... adakah akhwat yang rajin bertanya padamu selain aku ?"
"Ya.." jawabmu datar. "Kenapa, ukh ?" lanjutmu penuh tanda tanya.
"Berdasarkan survey yang kulakukan belakangan ini, ternyata anta termasuk jajaran top ikhwan di fesbuk ini. Ternyata banyak akhwat yang mengidolakanmu. " Paparku.
"Oh ya ?? kok bisa sih ?? padahal ana biasa-biasa aja tuh." Masih datar.
"Mereka bilang.... dari sekian banyak ikhwan yang berkelana di dunia maya ini, antumlah yang paling bijaksana, paling ramah, paling baik, paling luas wawasannya, paling pengertian, paling perhatian, paling....."
"Eh ?? ntar..ntar.. " potongnya.
"Paling perhatian ? paling pengertian ?? paling ramah ?? waddoohh... ana gak ngerasa gitu kok ukh. Perasaan, ana biasa-biasa aja deh menyikapi mereka yang sering bertanya ke ana, ya.. seperti sikap ana ke anti lah..."
Aku tersedak. Kaget. Sumpah. kamu bilang sikapmu ke akhwat lain itu biasa aja, seperti layaknya kamu meladeni percakapanku ??
Tidakkah kamu sadar, bahwa sikapmu padaku –yang kau bilang biasa- itulah yang membuatku jatuh cinta padamu ?? lalu, bagaimana dengan berpuluh-puluh akhwat yang kau ladeni obrolannnya ?? ckckckckck.. . pantas saja banyak akhwat yang berpikir bahwa kau juga menyukai mereka, seperti aku.
"Akhi, bolehkah ana mengoreksi sikap anta itu sedikit saja"
"Ya, tafadhol ukh" jawabmu.
"Mungkin anta gak sadar bahwa kebaikan, keramahan, serta sikap-sikap yang anta bilang biasa itu telah menimbulkan sebersit rasa yang seharusnya gak timbul di hati akhwat yang anta bantu pecahkan masalah"nya, yang anta henti-henti anta semangati hari-harinya, yang tak putus-putus anta nasehati segala lakunya..."
"Rasa apa ??" selamu.
"Rasa cinta"
"Hah ???
Aku tau kau kaget.
"Ana gak berniat begitu ukh. sungguh. Mereka bertanya, ya ana jawab. Mereka konsultasi, ya ana kasih solusi donk. Mereka cerita, ya ana ladeni. Mereka menyapa, ya ana jawab. Ana gak mau disangka sombong. Semuanya ana sikapi biasa-biasa aja ukh. Tapi, kalo akhwatnya merasa begitu....."
Kutunggu kelanjutan pembelaanmu. Ternyata memang sengaja kau gantung hingga disitu. Kulanjutkan perkataanku "mungkin sikap seperti itu memang akan biasa-biasa saja, kalo lawan bicara anta itu sekaum dengan anta. Masih sebangsa ikhwan. Tapi, mereka akhwat akh.. perasaannya sensitif, mudah tersanjung, sedikit saja anta perhatian, mereka –termasuk ana- akan jadi berbunga-bunga (sebenarnya tergantung akhwatnya juga sich ^__^ kalo ana sih gak begitu Rei... Suuuerrrrrrr! !!!! Hihi). mereka akan berpikir, bahwa anta pun ada rasa terhadap mereka. anta tau kan.. semakin sering bertemu, semakin sering berbagi cerita, maka persentase djatoeh tjinta itu semakin besar ??"
"Lalu ana harus gimana ukh ?? cuek aja waktu mereka nanya ?? ana gak bisa sesombong itu...."
"Menurut ana..." jawabku
"Seharusnya dari awal-awal anta udah kasih lampu merah ke mereka. saat mereka bertanya ke anta, untuk yang pertama kali bolehlah anta jawab. Tapi selesai menjawab.. bukankah ada baiknya anta tawarkan mereka untuk berkenalan dan bertanya tentang apa yang tak mereka ketahui pada akhwat yg juga luas wawasannya, juga fakih dalam masalah agama seperti anta. Lantas jelaskan padanya berbagai kemudhorotan yang ditimbulkan dari interaksi ikhwan wa akhwat di dunia maya yang penuh teppu dayee ini. Bukankah ini lebih menjaga hatinya, juga hati anta ?? agar dikemudian hari tak kan ada sentakan-sentakan rasa segala. Yang penting.. jangan biarkan percakapan anta dan mereka berlangsung lama, berlarut-larut, bahkan sampe curhat-curhatan segala. Anta tau kan, khalwat di dunia maya juga berbahaya. ^__^. Ada setan di bangku tiga. (opleeeet kaleeeeeeeee)
"Yelah.. tapi jangan ana aja donk yang dinasehatin, akhwatnya juga dong. Biar gak nodong-nodong ana lagi dengan beribu pertanyaan" sewotnya.
"Yuuppz.. akhwatnya juga, jangan sekali-kali nanya ke ikhwan. Toh, di dunia maya ini juga banyak akhwat-akhwat yang lebih cerdas daripada anta. :p selain itu, pertanyaan-pertanya an yang timbul ini sebenarnya bisa dicari jawabannya di kamar mbah google, tul gak ??"
"Yaaaaaaaaaaaaaaaaa aaa…"
"Pada dasarnya, kita –akhwat atau pun ikhwan- tau bahaya keseringan interaksi di dunia maya ini bisa merusak hati. Tapi, kadangkala ghorizah nau' ini mudah terpancing untuk disalurkan. Merasa butuh perhatian dari lawan jenis (Padahal di rumah ada ayah, adik, atau abang-abang kita yang juga berlawanan jenis dengan kita, lebih suuaayang lagi ama kita) Kalau sudah begitchu, kenapa gak merit aja sekalian yah..
Duit mah, urusan belakangan. Toh, anak ayam yang baru lahir aja udah disiapkan Allah rezekinya. Apalagi kita, anak manusia yang udah dewasa, punya akal yang top cerrrr lagi.


*************************************************************

Haha, sebenarnya sih, ‘ngeri’ jugak euy, mempaste tulisan orang, apalagi bertajuk ini. Hmmpphh… Tapi, sekali-sekali bolehlah… Hihi. Abis, kenak protes siih, “kenapa siih, masih bahas2 beginian? Bukankah ini manjagoan nan lah lalok (padang language)?”
Hmmph….manjagoan nan lah lalok? Permasalahannya adalah ini semua, telah terjadi semacam pergeseran gituh. (sebenarnya, lebih tepatnya, menasihati diri sendiri loh…sstttt!)

Nah…nah…, dalam batasan interaksi ini, salah seorang sahabat pernah member masukan, dan sekaligus memberikan ‘definisi’ bagaimana dalam berinteraksi tersebut.

Dalam hal mu’amalah, konsepnya adalah semua hal boleh sampai ada dalil qath’I yang melarangnya. Lalu, bagaimana jika case nya adalah, SMS-an antara ikhwan dan akhwat? Adakah dalil qath’I yang melarangnya? Bagaimana sih, bagaimana interaksi itu masih digolongkan boleh, dan bagaimana yang tidak?”
Nah… nah…, dalam interaksi tersebut, dalam komunikasi, Cuma melibatkan dua hal. Petama pengirim dan penerimanya dan kedua isinya.
Jika isinya tidak bermasalah yah tidak apa-apa. Hati pun tidak akan bermasalah. Nah, berarti tiggal keadaan pengirim dan penerimanya. Jika hati mereka, atau salah satu mereka bermasalah, ya bisa jai masalah. Boleh jadi, putih yang dikirim, merah jambu yang diterima. Makanya, biar pesan yang disampaikan pas sesuai makna, kata-kata yang digunakan kudu jelas.

Alat dan sarana itu dihukumi sesuai tujuannya. Contoh, pisau, dia bisa jadi baik, jika tujuannya baik, missal buat qurban. Jadi buruk jika dipakai buat bunuhin orang. Nah, SMS dan media lain juga begitu. Tetaplah jaga adab. Jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu.

Masalah VMJ, adalah masalah yang benar-benar menganggu da’wah. Nah plajaran yang dapat diambil adalah, “Janganlah pernah engkau sandarkan hatimu pada seseorang, sebelum ia halal bagimu.” Jadinya, segera tepis was-was syetan dengan senantiasa menjaga ALLAH di hati kita...


semoga bermanfaat temaaaaan..untuk ku...untukmu...untuk kita....!!!! ^_^